Dalam ajaran agama saya, “Iman tanpa perbuatan berarti kesia-siaan.” Namun dalam falsafah kebudayaan dan adat istiadat, “Perbuatan tanpa dedikasi adalah kesia-siaan.”
Mungkin saja konteks ajaran agama saya dan falsafah kebudayaan bisa disatukan, yaitu “ada iman yang melahirkan suatu perbuataan untuk sebuah dedikasi.”
Terkadang kita selalu berpikir segala bentuk perbuatan yang kita lakukan sudah melahirkan sebuah dedikasi. Sungguh mengharukan pula, jika kita mengatakan setiap perbuatan yang kita lakukan untuk dedikasi itu didasarkan oleh iman yang kita anut. Dan sangat menyakitkan jika ada orang mengatakan pada kita, kalau setiap perbuatan untuk dedikasi yang didasari oleh iman yang selama ini kita lakukan tidak dianggap apa-apa.
(lagi…)









