Saya tertawa kecil melihat tingkah teman saya yang berulangkali mengusap keringatnya dengan saputangan. Maklum, teman saya itu menjadi bintang di pesta siang itu. Dia mengundang saya di hari pernikahannya yang diadakan di sebuah gedung wilayah Ragunan Jakarta Selatan.
Setiap acara demi acara diikutinya dengan penuh semangat. Dari pemberkatan di gereja sampai kerja adat. Namun kerja adat ini merupakan puncak kelelahan dari teman saya ini. Selain di sepanjang acara dia harus mengenakan ose pakaian adat yang konon sangat berat dan membuat kita kaku untuk bergerak, dia harus mengikuti proses adat Karo yang penuh dengan tata aturan turun-temurun.
Nyaris satu jam dia berdiri dengan pasangannya sambil mendengar pedah-pedah dari Kalimbubu. Semua pihak Kalimbubu berganti bicara. Seolah corong Mic yang dipegang oleh pihak Anak Beru yang didaulat sebagai MC tidak boleh dibiarkan kering. Tentu saja semuanya harus didengarkan dengan baik oleh pihak Sukut, terutama teman saya yang punya hajatan ini. Kalau tidak mendengar, atau paling tidak duduk sambil mendengar, tentu saja akan dianggap tidak menghargai pihak Kalimbubu yang berjuluk Dibata Ni Idah itu. Dan secara adat Karo, itu haram hukumnya. Baca kelanjutan halaman ini »








Komentar