Art is My Blood

Terbaru

Pet Ngerana (Karo : Senang Bicara)

Saya tertawa kecil melihat tingkah teman saya yang berulangkali mengusap keringatnya dengan saputangan. Maklum, teman saya itu menjadi bintang di pesta siang itu. Dia mengundang saya di hari pernikahannya yang diadakan di sebuah gedung wilayah Ragunan Jakarta Selatan.

Setiap acara demi acara diikutinya dengan penuh semangat. Dari pemberkatan di gereja sampai kerja adat. Namun kerja adat ini merupakan puncak kelelahan dari teman saya ini. Selain di sepanjang acara dia harus mengenakan ose pakaian adat yang konon sangat berat dan membuat kita kaku untuk bergerak, dia harus mengikuti proses adat Karo yang penuh dengan tata aturan turun-temurun.

Nyaris satu jam dia berdiri dengan pasangannya sambil mendengar pedah-pedah dari Kalimbubu. Semua pihak Kalimbubu berganti bicara. Seolah corong Mic yang dipegang oleh pihak Anak Beru yang didaulat sebagai MC tidak boleh dibiarkan kering. Tentu saja semuanya harus didengarkan dengan baik oleh pihak Sukut, terutama teman saya yang punya hajatan ini. Kalau tidak mendengar, atau paling tidak duduk sambil mendengar, tentu saja akan dianggap tidak menghargai pihak Kalimbubu yang berjuluk Dibata Ni Idah itu. Dan secara adat Karo, itu haram hukumnya. Baca kelanjutan halaman ini »

Karo dan Ritus Tradisi

Kebudayaan berikut ritus tradisi Karo semakin surut sejak masuknya agama Kristen Protestan (dibawa NZG melalui Pdt H.C Kruyt, 1890), Katolik (dibawa Pastor Elpedius van Duynhoven,1939) & Islam (terutama Karo dataran rendah yang bergabung dengan Melayu). Sebelum masuknya ketiga agama tersebut ke Tanah Karo, agama Pemena/Perbegu (agama tradisional Karo) sangat mendukung ritus tradisi ini.

Agama Pemena/Perbegu erat kaitannya dengan agama Hindu dalam pemahaman ritus tradisi. Cikal bakal agama Hindu sendiri berasal dari imigran India yang masuk ke Tanah Karo.

Ada apa hubungan ritus tradisi dan agama ?

Saya ambil contoh Tarian. Pemahaman yang saya ambil disini adalah perbandingan budaya dan seni Karo dengan Bali. Mengapa Bali ? Baca kelanjutan halaman ini »

Eduard Angin di Mata Lensa Saya

IMG_5418 copy

Eduard Angin, salah seorang Fotografer terbaik yang dimiliki Medan saat ini. Pria kelahiran Kabanjahe ini mengawali karirnya di dunia fotografi Tanah Karo sebelum memutuskan hijrah ke Medan.  Di Tanah Karo sendiri dia telah menjadi acuan, tolak ukur, inspirasi teman-teman sedaerah akan perkembangan SDM Fotografi Karo. Bisa dikatakan Edu, panggilan akrabnya, menjadi ‘Bulang’ Fotografi Karo.

Dunia Fotografi Medan mengakui Eduard Angin sebagai Master Strobist. Pria masih lajang di usia sudah matang ini menjadi tempat pembelajaran bagi teman-teman untuk belajar seni lighting/pencahayaan fotografi. Selain itu keseniorannya di dunia fotografi melahirkan banyak teori falsafah fotografi bagi fotografer-fotografer muda untuk melangkah ke jalurnya.

Di mata saya, Eduard Angin adalah tempat pembelajaran. Karena di salah satu cabang seni ini, dia jauh lebih senior dari dia. Dan yang saya salut, dia tetap memegang teguh prinsip idealis sebagai fotografer walau banyak godaan berusaha menerpa :)

Antara Sutradara dan Fotografer

 

Beberapa waktu terakhir ini banyak teman-teman ataupun handai taulan bertanya pada saya, sudah jadi fotografer nih? Bukan jadi sutradara lagi ya? Berulangkali pula saya menjawab, profesi saya tetap sutradara, berkarya untuk orang banyak, yang memberikan inspirasi dalam merubah peradaban manusia terutama suku saya. Sementara fotografer, adalah hobi saya dalam mengeksporasi gambar ketika hobi ini saya jalankan saat saya masih tinggal di Jakarta dulu.

Suatu hari almarhum saya memberikan sebuah kamera SLR pada saya. Kamera analog itu bernama Canon FTB, kamera itu juga diwariskan Bulang (kakek) padanya dulu. Kamera tahun 1971 saya ingat diberikan tahun 2006, beberapa bulan sebelum bapak meninggalkan kami. Saya pakai kamera itu saat saya penelitian di Batukarang dan beberapa tempat di Tanah Karo. Padahal saat itu lagi hangat-hangatnya fotografer memakai kamera Digital SLR terbaru seperti Nikon D70S dan Canon EOS 350D.

Saya bawa kamera itu ke Jakarta, di beberapa kesempatan saya pakai kamera itu mengabadikan Jakarta dan berbagai event pertunjukan. Saya belajar semuanya dari kamera analog warisan ayah saya!

Selama di Jakarta, kondisi ekonomi menghukum saya untuk tidak memiliki DSLR. Mahal sekali ketika itu untuk ukuran pemasukan saya. Saya hanya bisa melihat reviewnya di majalah-majalah kamera yang saya beli termasuk berbagai situs fotografi termasuk fotografer.net dimana saya sudah mendaftar ketika itu. Di Fotografer.net juga saya upload foto-foto karya saya dan mendapat apresiasi. Saya semangat untuk berkarya di fotografi. Tapi apa daya hanya semangat yang ada, tidak finansial yang harusnya mendukung semangat itu.

Kepindahan saya ke Medan untuk menekuni profesi sebagai Sutradara produksi lokal sejenak melupakan segalanya. Saya fokus pada profesi saya itu. Namun suatu hari saat saya harus dipercaya oleh turang (adik perempuan) saya untuk mengambil sesi foto Pre-wedding kemudian mata saya terbuka lagi untuk fotografi. Saya hanya bisa meminjam kamera. Termasuk di 2 sesi Pre-wedding yang dipercaya untuk saya kerjakan, saya harus meminjam bahkan harus menyewa kamera teman saya! Baca kelanjutan halaman ini »

Watermark Baru

Setelah hampir setahun menekuni dunia fotografi, dengan berbagai pilihan watermark. Akhirnya saya mendesain watermark terbaru untuk karya-karya foto saya. Watermark dengan JoeyBangun.com ini dimaksudkan untuk lebih mengenal situs saya dan tentu saja  selain itu juga untuk mengenal dekat siapa saya :)

 

Joey Bangun

Peringkat 7 dunia Kategori ‘Digital Art’ Pixoto.com

Salah satu foto saya dengan model “Ros Jully Fine Art” terpilih di urutan pertama di Pixoto.com untuk tanggal tgl 10 Agustus 2012!

Salah persepsi soal selera Foto

Salah seorang model yang saya foto harus saya hapus fotonya dari berbagai situs fotografi termasuk dalam situs saya. Alasannya, foto yang saya upload dianggap jelek dari penampilannya. Dia pengen saya menampilkan hanya foto tampak di wajah saja dengan senyum memandang ke kamera. Padahal foto yang dipilihnya itu tidak ada sisi menariknya dalam seni fotografi, dan terlebih seperti dukomentasi. Saya telah memilihkan foto dengan nilai artistik untuknya. Akibatnya, saya sedikit kecewa  bekerja dengan model ini, fotonya hanya saya simpan saja di gudang Hardisk saya.

Selamat hari Minggu… Joey Bangun

Peringkat 1 dunia Kategori Wedding Pixoto.com

Salah satu foto saya dengan model Ros Jully terpilih di urutan pertama di Pixoto.com untuk tanggal tgl 4 Agustu 2012!

Arti Sebuah Penghargaan

Dedikasi untuk Karo

Sedang dalam Perbaikan

Website saya sedang dalam perbaikan. Beberapa waktu ke depan akan segera update kembali.

 

Terima Kasih

 

Joey Bangun

Perbuatan, Dedikasi, dan Melita Meliala

Dalam ajaran agama saya, “Iman tanpa perbuatan berarti kesia-siaan.” Namun dalam falsafah kebudayaan dan adat istiadat, “Perbuatan tanpa dedikasi adalah kesia-siaan.”

Mungkin saja konteks ajaran agama saya dan falsafah kebudayaan bisa disatukan, yaitu “ada iman yang melahirkan suatu perbuataan untuk sebuah dedikasi.”

Terkadang kita selalu berpikir segala bentuk perbuatan yang kita lakukan sudah melahirkan sebuah dedikasi. Sungguh mengharukan pula, jika kita mengatakan setiap perbuatan yang kita lakukan untuk dedikasi itu didasarkan oleh iman yang kita anut. Dan sangat menyakitkan jika ada orang mengatakan pada kita, kalau setiap perbuatan untuk dedikasi yang didasari oleh iman yang selama ini kita lakukan tidak dianggap apa-apa.
Baca kelanjutan halaman ini »

Nelangsa Kehidupan

Sebetulnya apa yang kau cari dalam hidup? Kepuasan dirimu atau kepuasan hidupmu. Tentu kau akan sulit menjawabnya. Tapi itulah kini. Hidup ini memang semakin membingungkan. Saat aku sendiri semakin tidak memahaminya.

Tidak mungkin aku ceritakan semuanya dalam stanza ini. Karena aku masih membutuhkan tempat dalam kesendirian yang harusnya tidak diketahui orang lain. Selain itu aku memang membutuhkan kesendirian. Dimana kepenatan membahan nelangsa isak lolongan hati.

Kenapa? Kenapa semua ini terjadi? Kau tanyakan pertanyaan itu padaku?

Aku tidak bisa menjawabnya karena aku memang tidak memahaminya. Yang terpahami aku hanyalah kini berada ditengah lautan luas dimana setiap saat ombak bisa menenggelamkan aku pada kematian. Baca kelanjutan halaman ini »

Tradisi – Kontemporer – Inovatif

Catatan jelang pertunjukan PUTRI HIJAU

“Dikhotomi antara yang tradisional dan yang kontemporer adalah dikhotomi yang problematis. Dalam kehidupan kesenian di Indonesia sekarang, apa yang tradisional juga masih hidup di satu zaman dengan yang modernis dan avant garde,” kata Goenawan Mohamad pada diskusi “Rethinking Tradition” di Goethe Haus Jakarta Sabtu lalu. Diskusi ini menjadi penutup dari acara yang digelar selama beberapa hari, yaitu Regional Dance Summit “Transforming Tradition” di tempat yang sama.

Selain penyair/sastrawan Goenawan Mohamad, hadir pula penari Sardono W Kusumo sebagai nara sumber. Diskusi ini diikuti lebih 200 orang dan uniknya datang dari berbagai negara seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Kamboja, Vietnam, Australia, hingga New Zealand. Sementara dari seniman Karo yang hadir saya dan Fredy Ginting (pemeran bapa Rudang yang kini menjadi pemeran utama PUTRI HIJAU). Kebetulan kami menghadiri diskusi ini setelah menghadiri kerja-kerja/pesta adat di gedung Dittopad Jakarta Pusat siangnya.

Apa yang menarik di diskusi itu tentu saja thema yang diangkat “Rethinking Tradition” memikirkan kembali tradisi. Sebegitu pentingnyakah kita memikirkan tradisi sementara saat ini kita hidup dikukung oleh hiruk pikuknya dunia digital.

Saat saya menghadiri kerja-kerja/pesta adat di Dittopad, saya melihat banyak sekali orang berkumpul. Mereka datang dari kalangan berada hingga ke level hidup dari cukup. Mereka hadir di tempat itu bukan hanya mereka menerima undangan yang sama juga seperti saya. Bukan pula karena mereka sekedar menghargai yang punya hajatan. Sadar dan tidak sadar, orang-orang yang berkumpul itu sudah “Rethinking Tradition”. Mereka hadir karena latar belakang  tradisi mereka. Tradisi Karo!

Sebagian besar dari mereka berasal dari Karo. Terlihat dari gaya berpakaian mereka. Gaya omongan mereka. Gaya jalan mereka. Gaya bertutur mereka. Mereka semua tidak bisa menghilangkan gaya itu. Gaya itulah disebut dalam nilai kebudayaan yaitu kearifan lokal budaya Karo.

Namun tidak semua generasi paham dengan kearifan tradisi itu. Terutama generasi muda. Itu sebabnya diperlukan gaya kontemporer dengan inovasi-inovasi baru yang tidak menghilangkan sisi tradisi itu sendiri.
Baca kelanjutan halaman ini »

~Mutiara Dewata~

Deru ombak mengguncang butiran pasir

sinar sunset membelah birunya pantai

kibaran angin hantarkan petang

burung camar nyanyikan kehidupan

`

Dibawah rindang pohon kelapa

Dinda ayu rebahkan tubuhnya di hamparan pasir

tergolek, mata memandang lurus ke atas

ungkap arti hidup pada cakrawala

`

Mutiara Dewata mendesahkan harapan

tuk berpaut pada Ma Nangin

berpelukan, menari dalam kobaran ombak asmara

cahaya mata berpadu pancarkan ketulusan

senyuman mengulum ungkapkan kasih

tawa berkumandang gelorakan jiwa

tuk nyatakan cinta

`

Mutiara Dewata berpulang pada Parahyangan

mewujudkan impian meraih cita dan cinta

tautkan diri pada jantung hati

bersatu pada alam

`

Tuk katakan

Dialah mutiara

di tengah pasir Kuta

`

= Kupersembahkan Untuk Mutiara Dewataku =

`

Camp David, 8 April 2004

Pk 23.46 WIB

Joey Bangun

Selamat Jalan Pahlawan!

senibudaya_rendra

Secara pribadi saya turut berduka mendalam atas kepergian si “Burung Merak”. Saya adalah pengagum Wilibrodus Surendra Rendra. Kumpulan buku puisinya tersusun di rak buku saya, dan poster wajahnya tergantung di dinding kamar saya.

Saya teringat saat saya bernazar untuk menonton Rendra baca puisi sebelum dia dipanggil Tuhan. Waktu itu tanggal 6 April 2006, saya akhirnya menonton sang maestro teater itu baca puisi di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Padahal saat itu tiketnya sangat mahal untuk ukuran orang baca puisi. Uang saya yang pas-pasan coba saya korbankan untuk mengabulkan nazar itu.

Semangat Rendra mengembangkan seni teater di tanah air memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus bersemangat mengabdi di kesenian ini. Termasuk saya!

Selamat jalan Rendra! Selamat jalan Pahlawan!

Aku mendengar suara
jerit hewan terluka

Ada orang memanah rembulan
ada anak burung berjatuh di sarangnya

Orang-orang harus dibangunkan
kesaksian harus diberikan
agar kehidupan bisa terjaga

(W.S Rendra, PPR, 1992 : 21)

Joey Bangun

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.950 pengikut lainnya.