Perbuatan, Dedikasi, dan Melita Meliala

Dalam ajaran agama saya, “Iman tanpa perbuatan berarti kesia-siaan.” Namun dalam falsafah kebudayaan dan adat istiadat, “Perbuatan tanpa dedikasi adalah kesia-siaan.”

Mungkin saja konteks ajaran agama saya dan falsafah kebudayaan bisa disatukan, yaitu “ada iman yang melahirkan suatu perbuataan untuk sebuah dedikasi.”

Terkadang kita selalu berpikir segala bentuk perbuatan yang kita lakukan sudah melahirkan sebuah dedikasi. Sungguh mengharukan pula, jika kita mengatakan setiap perbuatan yang kita lakukan untuk dedikasi itu didasarkan oleh iman yang kita anut. Dan sangat menyakitkan jika ada orang mengatakan pada kita, kalau setiap perbuatan untuk dedikasi yang didasari oleh iman yang selama ini kita lakukan tidak dianggap apa-apa.
(lagi…)

Diterbitkan di: on Desember 19, 2010 at 4:13 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Nelangsa Kehidupan

Sebetulnya apa yang kau cari dalam hidup? Kepuasan dirimu atau kepuasan hidupmu. Tentu kau akan sulit menjawabnya. Tapi itulah kini. Hidup ini memang semakin membingungkan. Saat aku sendiri semakin tidak memahaminya.

Tidak mungkin aku ceritakan semuanya dalam stanza ini. Karena aku masih membutuhkan tempat dalam kesendirian yang harusnya tidak diketahui orang lain. Selain itu aku memang membutuhkan kesendirian. Dimana kepenatan membahan nelangsa isak lolongan hati.

Kenapa? Kenapa semua ini terjadi? Kau tanyakan pertanyaan itu padaku?

Aku tidak bisa menjawabnya karena aku memang tidak memahaminya. Yang terpahami aku hanyalah kini berada ditengah lautan luas dimana setiap saat ombak bisa menenggelamkan aku pada kematian. (lagi…)

Diterbitkan di: on November 26, 2010 at 6:33 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tradisi – Kontemporer – Inovatif

Catatan jelang pertunjukan PUTRI HIJAU

“Dikhotomi antara yang tradisional dan yang kontemporer adalah dikhotomi yang problematis. Dalam kehidupan kesenian di Indonesia sekarang, apa yang tradisional juga masih hidup di satu zaman dengan yang modernis dan avant garde,” kata Goenawan Mohamad pada diskusi “Rethinking Tradition” di Goethe Haus Jakarta Sabtu lalu. Diskusi ini menjadi penutup dari acara yang digelar selama beberapa hari, yaitu Regional Dance Summit “Transforming Tradition” di tempat yang sama.

Selain penyair/sastrawan Goenawan Mohamad, hadir pula penari Sardono W Kusumo sebagai nara sumber. Diskusi ini diikuti lebih 200 orang dan uniknya datang dari berbagai negara seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Kamboja, Vietnam, Australia, hingga New Zealand. Sementara dari seniman Karo yang hadir saya dan Fredy Ginting (pemeran bapa Rudang yang kini menjadi pemeran utama PUTRI HIJAU). Kebetulan kami menghadiri diskusi ini setelah menghadiri kerja-kerja/pesta adat di gedung Dittopad Jakarta Pusat siangnya.

Apa yang menarik di diskusi itu tentu saja thema yang diangkat “Rethinking Tradition” memikirkan kembali tradisi. Sebegitu pentingnyakah kita memikirkan tradisi sementara saat ini kita hidup dikukung oleh hiruk pikuknya dunia digital.

Saat saya menghadiri kerja-kerja/pesta adat di Dittopad, saya melihat banyak sekali orang berkumpul. Mereka datang dari kalangan berada hingga ke level hidup dari cukup. Mereka hadir di tempat itu bukan hanya mereka menerima undangan yang sama juga seperti saya. Bukan pula karena mereka sekedar menghargai yang punya hajatan. Sadar dan tidak sadar, orang-orang yang berkumpul itu sudah “Rethinking Tradition”. Mereka hadir karena latar belakang  tradisi mereka. Tradisi Karo!

Sebagian besar dari mereka berasal dari Karo. Terlihat dari gaya berpakaian mereka. Gaya omongan mereka. Gaya jalan mereka. Gaya bertutur mereka. Mereka semua tidak bisa menghilangkan gaya itu. Gaya itulah disebut dalam nilai kebudayaan yaitu kearifan lokal budaya Karo.

Namun tidak semua generasi paham dengan kearifan tradisi itu. Terutama generasi muda. Itu sebabnya diperlukan gaya kontemporer dengan inovasi-inovasi baru yang tidak menghilangkan sisi tradisi itu sendiri.
(lagi…)

Diterbitkan di: on Agustus 10, 2009 at 6:21 pm  Komentar (1)  

~Mutiara Dewata~

Deru ombak mengguncang butiran pasir

sinar sunset membelah birunya pantai

kibaran angin hantarkan petang

burung camar nyanyikan kehidupan

`

Dibawah rindang pohon kelapa

Dinda ayu rebahkan tubuhnya di hamparan pasir

tergolek, mata memandang lurus ke atas

ungkap arti hidup pada cakrawala

`

Mutiara Dewata mendesahkan harapan

tuk berpaut pada Ma Nangin

berpelukan, menari dalam kobaran ombak asmara

cahaya mata berpadu pancarkan ketulusan

senyuman mengulum ungkapkan kasih

tawa berkumandang gelorakan jiwa

tuk nyatakan cinta

`

Mutiara Dewata berpulang pada Parahyangan

mewujudkan impian meraih cita dan cinta

tautkan diri pada jantung hati

bersatu pada alam

`

Tuk katakan

Dialah mutiara

di tengah pasir Kuta

`

= Kupersembahkan Untuk Mutiara Dewataku =

`

Camp David, 8 April 2004

Pk 23.46 WIB

Joey Bangun

Diterbitkan di: on Agustus 7, 2009 at 4:29 pm  Komentar (1)  

Selamat Jalan Pahlawan!

senibudaya_rendra

Secara pribadi saya turut berduka mendalam atas kepergian si “Burung Merak”. Saya adalah pengagum Wilibrodus Surendra Rendra. Kumpulan buku puisinya tersusun di rak buku saya, dan poster wajahnya tergantung di dinding kamar saya.

Saya teringat saat saya bernazar untuk menonton Rendra baca puisi sebelum dia dipanggil Tuhan. Waktu itu tanggal 6 April 2006, saya akhirnya menonton sang maestro teater itu baca puisi di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Padahal saat itu tiketnya sangat mahal untuk ukuran orang baca puisi. Uang saya yang pas-pasan coba saya korbankan untuk mengabulkan nazar itu.

Semangat Rendra mengembangkan seni teater di tanah air memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus bersemangat mengabdi di kesenian ini. Termasuk saya!

Selamat jalan Rendra! Selamat jalan Pahlawan!

Aku mendengar suara
jerit hewan terluka

Ada orang memanah rembulan
ada anak burung berjatuh di sarangnya

Orang-orang harus dibangunkan
kesaksian harus diberikan
agar kehidupan bisa terjaga

(W.S Rendra, PPR, 1992 : 21)

Joey Bangun

Diterbitkan di: on Agustus 7, 2009 at 2:08 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Wanita Karo di Indonesia 500 early Postcards

Wanita Karo
Seorang wanita Karo tempo doeloe menjadi cover buku “Indonesia 500 early Postcards”. Wanita Karo itu duduk dengan gaya anggun memakai pakaian khas wanita Karo lengkap dengan tudung dan padung-padung tempo doeloe. Yang uniknya di atas tudung wanita Karo itu diletakkan “Sumpit Nakan”.

Keanggunan wanita Karo Tempo doeloe adalah sebuah sisi eksotik kearifan lokal budaya Karo. Yang pasti pose wanita Karo ini menjadi pose terbaik/pilihan dari 500 gambar kartu pos seluruh Indonesia yang dikeluarkan pada zaman kolonial.

Diantaranya ada beberapa yang menggambarkan kehidupan kuta Karo Tempo Doloe. Seperti Istana Sibayak Lingga di Kabanjahe. Istana Raja Karo ini berdiam 16 Jabu  (16 Keluarga). Istana ini sudah hangus dibakar rakyat Karo saat zaman Revolusi tahun 1947. Raja Sibayak Lingga terakhir adalah Raja Kelelong Sinulingga bulang dari Isfridus Sinulingga (suami Tio Fanta Pinem).

Buku yang dirangkum oleh Leo Haks dan Steven Wachlin. Buku ini ditawarkan dengan List price: $40.00. Di Indonesia bisa didapatkan di Toko Buku Gramedia dengan harga : Rp. 415.000,-… ..!

Selamat mencari dan mengoleksi salah satu buku langka ini!

Diterbitkan di: on Juli 28, 2009 at 1:10 pm  Komentar (1)  

The Special Headdress of Karo tell a Story

Mahligai

Tudung khas Karo Bercerita

Exotic and Unique. That is the proper word for the traditional wedding attire of Batak Karo, North Sumatera. The Characteristic is on its headress. Besides presenting the beauty and exclusivity, this headdress made from ulos was an everyday tradition of the Karo’s society as a protection from the daylight sun shine, or from the night cold wind. For the bride’s appearance, this unique headress as tough has an abilty to tell story.

(Majalah MAHLIGAI edisi ke 5 Juli 2009)

Itulah kalimat pembuka halaman 10 majalah tradisi, pernikahan, dan gaya hidup MAHLIGAI edisi Juli yang saat ini banyak beredar di berbagai toko buku maupun agen koran dan majalah. Di kalimat pembuka itu saja saya sudah menarik kesimpulan adanya kesalahpahaman karena ketidakpahaman.

Budaya Karo tidak mengenal yang namanya Ulos. Apalagi menggunakan ulos dalam pakaian perkawinan tradisional Karo (Ose). Adapun jenis-jenis kain karo/uis terbagi oleh 19 corak : Beka Buluh, Uis Nipes Padang Rusak, Gatip Jongkit, Uis Nipes Benang Iring, Kelam-kelam, Julu, Ragi Mbacang, Jujung-jujungen, Uis Gara Jongkit, Langge-langge, Uis Teba, Uis Pementing, Uis Batu Jala, Uis Arinteneng, Gatip Cukcak, Uis Gara benang emas, Gobar Dibata, Gatip Gawang, dan Uis Perembah.

(lagi…)

Diterbitkan di: on Juli 13, 2009 at 6:08 pm  Komentar (5)  

BENAH – BENIH

Catatan ini menjadi catatan pertama untuk merangkai kisah dibalik proses produksi pertunjukan teater PUTRI HIJAU produksi ke-7 Teater Aron yang akan digelar 16-17 Oktober 2009 di Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Ismail.

Catatan ini akan menjadi pembuka sebuah perjalanan panjang dari sebuah pertunjukan monumental yang syukuran dan latihan perdananya akan digelar nanti malam di Sanggar Baru Taman Ismail Marzuki, tempat latihan resmi PUTRI HIJAU.

Syukuran nanti akan dihadiri para aktor dan kru yang terlibat. Yang pasti mereka semua siap mendedikasi hidup mereka beberapa bulan ke depan demi kesuksesan PUTRI HIJAU. Dedikasi itu kemudian kami sebut “Dedikasi untuk Budaya” demi kemajuan Karo tercinta.

BENAH

Saya telah menuliskan naskah setebal 32 halaman terdiri 5 babak dengan 29 adegan/scene berdurasi 2,5 jam. Selama 5 bulan saya mengerjakan naskah ini setelah saya melakukan riset lapangan dan data selama sebulan penuh di bulan Januari lalu. Hasilnya, saya memastikan naskah yang akan kami mainkan nanti adalah sebuah naskah teater kolosal terdahsyat yang mewakili tiga etnis, Karo, Melayu, dan Aceh.

Saya terlalu percaya diri mengatakan demikian? Atau terlihat sedikit sombong?

Yang hanya bisa saya katakan, saya harus percaya diri. Kalau saya tidak percaya diri bagaimana saya berani memulai perjuangan yang menurut sebagian seniman Karo Jakarta “Mission Impossible”. Semangat berkarya dan terus berkarya terus saya tanamkan dalam benak saya. Sesuatu pasti akan terjadi ke depan. Menang atau kalah, tidak ada yang tahu. Kalau kita tidak pernah memulainya darimana kita tahu kita akan kalah. Kalau kita fokus, percaya diri, dan berserah pada Tuhan, mungkinkah kita akan kalah?

(lagi…)

Diterbitkan di: on Juli 8, 2009 at 8:16 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

TEGUN LOLO

Dengan berakhirnya episode terakhir sinteron Karo NANDE RUDANG tadi sore, maka kami Tim Produksi ‘Nande Rudang’ TVRI Jakarta bekerjasama dengan TVRI Sumatera Utara berikut ARON ARTS sebagai media promosi resmi mengucapkan banyak terima kasih untuk semua perhatian yang telah diberikan juga kritik dan saran yang membangun kami untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Kami mohon maaf jika memang ada yang tidak berkenan di hati. Semoga yang sudah disaksikan bisa dimaklumi.

———————————————————————————–
Sebuah Ide Cerita
Produser Simson Tarigan

Berdasarkan kisah nyata

Sinetron Karo

TEGUN  LOLO

karya cerita Joey Bangun

“Seorang wanita harus menatap takdirnya ditinggal pergi suami tercinta untuk selamanya. Dia harus berjuang demi membesarkan anak-anaknya. Yang mereka tahu kalau takdir mereka adalah Tegun Lolo.”

Produksi bersama
TVRI JakartaTVRI Sumut
Nopember 2009

Segera di TVRI!


——————————–

“Tegun Lolo adalah kisah nyata kehidupan keluarga saya. Bagaimana Nande kami memperjuangkan kehidupan kami anak-anaknya seorang diri. Hingga kelak kami akan menjadi orang berguna. Itu sebabnya saya akan begitu mnghayati cerita ini saat menulisnya nanti.”
JOEY BANGUN seperti ditulis di www.joeybangun.com


Diterbitkan di: on Juni 4, 2009 at 1:50 pm  Komentar (4)  

Untuk Mencintaimu

love1

Inilah ungkapan hatiku yang kuberikan untukmu. Kupersembahkan untukmu sebuah simfoni “Untuk Mencintaimu” dari Seventeen.

apa yang harus aku lakukan
untuk membuat kau mencintaiku
segala upaya tlah kulakukan untukmu

apa yang harus aku temukan
untuk membuat kau menyayangiku
inilah aku yang memilih kau untukku

reff:
karna aku mencintaimu
dan hatiku hanya untukmu
tak akan menyerah
dan takkan berhenti mencintaimu

ku berjuang dalam hidupku
untuk selalu memilikimu
seumur hidupku, setulus hatiku
hanya untukmu

repeat reff

seumur hidupku, setulus hatiku

Diterbitkan di: on Februari 8, 2009 at 10:26 am  Komentar (1)  

Penghargaan

joey1

Perhargaan diberikan pada orang-orang yang berkarya untuk orang banyak.

Penghargaan diberikan oleh orang-orang yang mengapresiasikan hasil karya itu.

Namun aku,

Aku belum layak diberi penghargaan.

Masih banyak yang perlu diberikan sebagai dedikasiku pada orang banyak.

JOEY BANGUN

Diterbitkan di: on Desember 14, 2008 at 4:41 pm  Komentar (1)  

Brutus

brutus

Dalam legenda Kaisar Roma, Julius Caesar mati bersimbah darah di tangan orang kepercayaannya bernama Brutus. Brutus bersekongkol dengan para senator Roma untuk membunuh Sang Kaisar. Padahal orang itu sangat dikasihi Julius Caesar. Bahkan Sang Kaisar suatu kali pernah menyelamatkan hidupnya.

Di Pawang Ternalem, dia ternyata seorang Brutus.

Dia adalah orang yang saya percayai selama ini. Saya sangat mengasihinya. Saya telah membantunya. Saya telah mengangkat namanya.

Namun,

Dia telah bersekongkol dengan orang-orang luar sana untuk menghajar saya. Saya ditusuk dari belakang tanpa ampun olehnya. Oleh orang yang saya kasihi itu. Kepercayaan selama ini hanyalah sebuah dusta. Hingga raungan kesakitan dan simbahan darah telah memendam saya pada keheningan.

ist2_407872-blood-splatter

Dialah orang yang saya kasihi di Pawang Ternalem itu

Diterbitkan di: on Desember 3, 2008 at 7:15 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Serukan : Kebangkitan Karo!

joey

Diterbitkan di: on Desember 3, 2008 at 7:13 pm  Komentar (2)  

Usai

Di akhir cerita

Pawang Ternalem dan Beru Patimar
menyanyi dan menari Erdemu Bayu

Datuk Rubia Gande, sang Malaikat
perintahkan Tulak Kelambir Gading turun
dari Tualang Si Mande Angin

Dara meminta
agar Nandenya mencarikan jodoh untuknya

Layar Tertutup

Penonton bertepuk tangan meriah

Sutradara menerima karangan bunga
dari Putra Jenggi Kemawar

Terima Kasih Karo!

Inilah pengabdian kami padamu….

Pawang Ternalem usai sudah. Di dalamnya ada segudang masalah. Di dalamnya ada segudang peluh. Di dalamnya ada segudang air mata. Di dalamnya ada segudang pengorbanan. Di dalamnya ada segudang asa. Yang pasti, di dalamnya ada segudang perjuangan.

Titik itu telah saya lewati….
Saya menitikkan air mata melihat penonton tumpah ruah memenuhi gedung berkapasitas 810 penonton itu. Saya tahu mereka semua berharap sesuatu dari kami. Sesuatu persembahan terbaik. Itu sebabnya, detik-detik terakhir saya coba bangkitkan spirit bermain para aktor dengan jiwa, roh, dan menyertakan TUHAN didalamnya.

Hasilnya… (lagi…)

Diterbitkan di: on Oktober 27, 2008 at 7:46 pm  Komentar (3)  

Rona Asa

Di sudut keujungan malam

tergambar rupa keagungan surgawi

di hati fana seorang sahabat

`

Wajah itu aku ingat kembali

saat sukma kembali ronakan duka

jiwa hati terpurukkan asa

`

Oh dimanakah sahabat

mengapa dia hanya diam

tak bergeming tak juga ucapkan kata

`

Mengapa tidak lagi terlihat sungging senyumnya

mungkin saja patah hati senada

sahabat ampunkan aku akan kasihmu

ingin aku memelukmu

dan ucapkan di telingamu yang maha suci

`

Selamatkan sahabatmu yang sedang berduka

kalau suatu saat kau melihatnya duduk sendiri

di lorong gelap, menggigil bersedih

lelehkan air mata di pipinya yang berkerut

`

Sebutlah sahabatmu itu

dengan untaian nama indah

nama yang kelak semua orang mengingatnya

nama itu

PAWANG TERNALEM

`

Jakarta, 250908 01.03

JOEY BANGUN

Diterbitkan di: on September 24, 2008 at 5:51 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.