Stanza Karo Simalem
Kucoretkan sebuah stanza
di malam sepi, telantang kupandang
betapa ajaib bersinar gemintang
di ufuk awal tahun perjuangan
teruntuk simalemnya Tanah Karo
Dalam gemulut rumputan merancah kakiku
padang-padang meliar, jerit gagak membingar
keagungan gendang Karo lima sedalinen
pemersatu harkat silima merga
melepuh hancur hampir tak bersisa
Sambutan suram ini tidak asing bagiku
begitu temaram kuta Lingga
rumah-rumah adat bertanduk kerbau
rontok terhukum tak berampun
segalanya fana dan semua berlalu
Tanah pupuk yang kudus dengan kening kucecah
di bawahnya cacing-cacing pasti mengerat
duri-duri terkutuk! semak-semak keparat!
orang-orang pasar berhati durja
api sedih luluhkan mimpi petani bersahaja
Aku dengar semangat bumi yang lena
mewangi kembali dan memesona daku
taman gaib untuk para pelancong
tuntut ingin menceraikan diri karena sudah layu
pisau-pisau para ‘tuan’ mengekang kemajuan
Satu orang, dua orang, tiga orang,
maju tanpa ragu untuk menjadi ‘tuan’
disundut, dicaci, ditampar, diremehkan,
oleh saudara yang mengaku seleluhur
jangan menyerah kawan, angkat terus wajahmu
Lihat surya bergumul dalam kabut Karo
jangan berlalu sebelum kutiti jembatan Lau Biang
untuk menuntut para korban penggelehan
kenapa sampai detik ini tanpa ada perkembangan
“nanti dulu, kau masih terlalu lugu untuk ketahui”
kata seorang ‘tuan’
-
Batavia. 030108 4.28
JOEY BANGUN
BERCINTA ALA DON JUAN

TULISAN INI SEBELUM DIEDIT REDAKSI COSMOPOLITAN
Siapa sih kaum hawa di muka bumi ini yang tidak kenal Don Juan? Mungkin mereka tidak tahu sejarah pria penakluk wanita ini. Namun tentu saja, kalau sang Adam bertanya apa sih keunggulan Don Juan dari antara pria-pria lain. Kaum Hawa akan berebut menjawabnya dengan kesimpulan masing-masing. Karena tidak sedikit dari mereka mengaku pernah bercinta dengan sang “Don Juan”, si legenda cinta itu
Don Juan adalah sebuah tokoh fiksi yang pertama kali diangkat dalam sebuah cerita Spanyol dikarang oleh pujangga Tirso de Molina dalam El burlador de Sevilla y convidado de piedra tahun 1630. Tokoh Don Juan terkenal sebagai laki-laki penggoda. Hobinya gonta-ganti pacar. Sayangnya terkadang sebutan Don Juan diberikan pada pria atau laki-laki yang suka menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Hm, sounds familiar!
Namun di balik sisi negatifnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan seorang Don Juan. Misalnya, bagaimana dia bisa menaklukkan yang konon semua hati para wanita di muka bumi ini. Tentu saja ini tidak mudah. Tapi setelah anda membaca rahasia si penakluk cinta itu di bawah ini, mungkin saja anda akan berpikir untuk menjadi The Next Don Juan (lagi…)
2 Karya 2 Peran
Fiuh…!
Sebenarnya membuat suatu karya seni susah-susah gampang. Susah kalau kita tidak bisa bekerja sesuai dengan kenyataan yang kita inginkan. Mudah karena memang kita terlahir untuk membuat karya seni itu. Bukankah setiap ilham dan ispirasi berasal dari Tuhan. Tuhan yang memberikan ispirasi pada orang yang tepat untuk merealisasikannya. Sehingga tugas yang diembankan Sang Pencipta harus kita laksanakan.
Karya seni adalah proses. Begitu juga dengan pengerjaan drama kontemporer Paskah GBKP Rawamangun. Banyak pengalaman yang bisa digali. Ketemu orang-orang baru aku kenal berikut bekerjasama dengan mereka. Mungkin karena sudah sering bertemu dengan orang-orang tipe gini kadang-kadang aku sudah tidak peduli lagi. Orang-orang yang hanya bisa ngomong tapi tidak profesional di bidangnya. “Tau apa mereka tentang karyaku!” kataku dalam hati ketika orang-orang komplain denganku saat jam 12 malam padahal 5 jam lagi akan pertunjukan! (lagi…)
Film dan Aku
Tadi siang aku nonton film “Ayat-Ayat Cinta” di Mall Artha Gading. Sendiri, tidak ada yang menemani. Seorang teman, satu rumahku, yang kuajak, tidak mau berminat menonton film itu. “Terlalu Islami” katanya. Untuk mengajak pacar tentu saja tidak mungkin. Setelah perpisahan kami Nopember lalu, aku tidak punya seorang hawa yang bisa menemaniku kemana saja.
Ayat-ayat Cinta (AAC) udah jadi target tontonanku dari dulu. Selain karena menghargai Mas Hanung Bramantyo (kami sama-sama anggota MFI) juga menghargai teman satu angkatanku di KPU Sinematografi Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), sahabatku Raymond Handaya yang jadi Asisten Sutradara (astrada) di film itu. Kalau buka rahasia, novel AAC baru selesai aku baca kemarin malam setelah 2 bulan yang lalu aku beli di sebuah kios di Senen.
Bayangkan dalam waktu sehari, aku bisa membaca novel itu 250 halaman. Dan untuk itu aku perlu waktu hampir 5 jam. Itupun aku sempatkan karena sedang menunggu interview pekerjaan. Aku bosan menunggu. Bayangkan, kemarin aku harus nunggu di interview dari jam 11 sampai jam 4 sore. Untung saja ada novel itu yang bisa menemaniku. Kalau tidak? Mungkin aku sudah mati kebosanan. Atau kalau tidak ada interview itu mungkin saja aku tidak selesai-selesai membaca novel itu sampai filmnya habis diputar di bioskop. (lagi…)
Cekurak
Suatu sore di bulan Desember 2006, tepatnya di Jakarta International Film Festival (JIFFEST) tanpa sengaja saya bertemu dengan Dian Sastrowardoyo, aktris terkenal peraih piala Citra lewat aktingnya dalam film laris “Ada apa dengan Cinta”.
Kebetulan saat itu bioskop Djakarta XXI venue JIFFEST penuh sesak oleh pecinta-pecinta film yang mau menonton film-film dari berbagai penjuru dunia. Sebenarnya sosok Dian Sastro tidak begitu menonjol dibanding penonton lain. Namun feeling saya yang diciptakan sensitif pada artis cantik cepat menangkap sosok Dian. Entah kenapa, sore itu Tuhan begitu baik pada saya, hingga mengabulkan permohonan saya berada satu bioskop dan duduk di dekat Dian Sastro!
Film VOLVER asal Spanyol yang kata orang bagus dan menang di berbagai festival film, justru tidak menarik di mata saya. Malam itu tidak ada yang paling menarik dalam alam pikiran saya selain Dian Sastro yang duduk di dekat saya.
Terus terang saat itu saya tidak bisa kosentrasi lagi. Mata saya memang melotot ke widescreen. Namun hati saya sedang menikmati raga Dian Sastro. Teman saya, seorang sutradara film yang kebetulan duduk di sebelah saya nyeletuk, “Tempat kerja lo kan banyak artis. Cewek gitu aja diliatin. Norak lo!!”. Dengan suara setengah berbisik (agar tidak terdengar Dian) saya berkata, “Ini Dian Sastro, men!”.
Cekurak milik siapa
Menurut kamus besar bahasa Karo karya Darwin Prinst, tertulis pengertian Cekurak adalah menjelekkan orang lain, atau menjelek-jelekkan sifat orang lain. Cekurak bisa juga diartikan dalam bahasa Indonesia, ngomongin orang lain atau yang lebih dikenal dengan nama GOSIP. (lagi…)
Jungut – Jungut
Secara tutur saya memanggilnya Kila. Tetapi dia lebih senang dipanggil abang daripada dipanggil Kila. “Biar tidak terlihat tua” katanya suatu ketika. Sore itu pertemuan saya dengan abang itu di sebuah café yang menjual aneka cokelat perusahaan francise dari Paris, di Mall baru di kawasan Senayan Jakarta. Pertemuan ini membuat saya agak sedikit gugup. Maklum, abang ini termasuk 10 besar orang Karo tersukses versi buku “Orang Karo diantara orang Batak” karya Martin Perangin-angin.
Kebetulan konglomerat Karo ini meminta saya untuk membantunya mendaftar di beberapa mailinglist Karo. Alasannya sederhana, “Untuk mengetahui perkembangan Karo.” Dengan sigap pula saya membuka berbagai portal yahoogroups langsung dari laptopnya sambil menyeruput secangkir coklat panas yang segelasnya sampai Rp. 45.000!
Selama melakukan register mailinglist, sang abang terus bercerita mengenai bisnisnya dan segala keterkaitannya dengan Karo. Dia mencoba bertanya, atau lebih tepatnya mencoba meminta nasihat dari saya, bagaimana caranya bisa sukses berbisnis dengan orang Karo. “Kenapa ya kalau kita bekerjasama dengan orang Karo tidak pernah berhasil?” (lagi…)
Gertak Lau Biang

Rasanya tidak orang yang lahir, besar, atau paling tidak pernah tinggal di Tanah Karo tidak mengenal Gertak Lau Biang (baca : Jembatan Lau Biang). Jika ditanyakan apa pendapat mereka tentang Gertak Lau Biang dengan perasaan bergidik dan dibumbui cerita-cerita seram mereka akan menjelaskan tentang jembatan angker tersebut.
Konon penamaan Lau Biang itu sendiri diambil dari cerita dimana salah seorang nenek moyang merga Sembiring pernah dikejar musuhnya kemudian menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke sebuah sungai dan hampir tenggelam. Seekor anjing kemudian menyelamatkan orang itu dan membawanya ke seberang. Mulai dari situ sungai tersebut dinamakan Lau Biang dan Merga Sembiring Singombak berjanji untuk pantang makan daging anjing.
Sembiring Singombak yang dalam bahasa Budayawan Karo Brahma Putro disebut Sembiring Hindu Tamil menganggap Lau Biang adalah sungai suci. Dulu Seberaya (sebelumnya disebut Sicapah) yang menjadi pusat dari Sembiring Singombak diadakan perayaan besar “Kerja Mbelin Paka Waluh” seremai sekali atau 32 tahun sekali. Menurut peneletian Kerja Mbelin Paka Waluh terakhir terjadi antara tahun 1850-1880. (lagi…)
Denias, Potensi Terlupakan dari Papua

Ketika kita menikmati film Denias, Senandung di atas Awan, kita akan menyaksikan keindahan alam dan segala potensi papua yang selama ini terlupakan. Baik potensi itu menyangkut sumber daya manusia dan sumber daya alamnya.
Film ini mencoba mengulas lebih dalam potensi adat di tanah Papua berikut tata kramanya. Maka akan terjadilah seperti yang dialami Denias ( ) seorang putra Papua yang amat merindukan untuk bersekolah. (lagi…)
Kritik
Baru saja aku dan teman-teman teater gabungan permata GBKP Jakarta Palembang menyelesaikan sebuah pertunjukan yang diberi label olehku “Tabas”. Bagi orang karo, judul itu mungkin sudah bisa menebak kalau sendratari Karo kontemporer ini ada hubungannya dengan dukun atau lazim disebut guru.
Sebagai sutradara/koreograf er aku tidak menyangka pertunjukan ini akan sesukses ini. Penonton terpukau dan bertepuktangan meriah untuk kami. Padahal pada saat kami pentas, suasana masih kebaktian dan dalam tata ibadah GBKP haram hukumnya jika pas kebaktian berepuktangan. Disinilah pesona salah satu karyaku, aku pikir. Thanks God!
But, (lagi…)
6:30, Kisah Cinta di San Francisco Nan Sepi

Terkisah tiga sahabat yang tinggal di San fransisco, yaitu Alit (Adilla Dimitri), roommatenya Bima (Winky Wiryawan) dan Tasya (Dinna Olivia), mantan pacar Bima. Setelah menyelesaikan kuliahnya di San Fransisco, Alit memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk menemui ibunya (Jajang C Noer) yang selama 5 tahun tidak pernah bertemu.
Hal ini menghadapkan Alit pada keinginan untuk mengungkapkan isi hatinya pada Tasya sebelum dia pulang. Namun keinginan Alit terbentur pada kenyataan kalau Bima ternyata masih mencintai Tasya. Dari sinilah konflik demi konflik kemudian muncul.
Kritik
Plot yang dibangun di film ini cukup sederhana dan mudah ditebak. Pernah ada film Indonesia mengangkat tema cinta serupa beberapa waktu lalu. Pembangunan cerita sedikit kedodoran oleh dialog-dialog yang terkesan monoton dan cenderung membosankan. (lagi…)
Senjata Nande-Nande di Koran Kompas
Sebagai perantau saya sangat terkejut ketika melihat sebuah gambar di harian Kompas terbitan Selasa, 29 Maret 2005 hal 20.Disitu terlihat gambar tanpa berita berukuran 5R Nande-Nande dan Nini-nini warga jalan Ngumban Surbakti lengkap dengan tudung masing-masing.
Tertulis dibawah gambar :
Siapkan “Senjata”- Sekitar 60 pengunjuk rasa, ibu-ibu warga jalan Ngumban Surbakti, yang Senin (28/3) kemarin menuntut realisasi ganti rugi tanah mereka, makan sirih dan mengunyah tembakau.Selain merupakan kebiasaan, mereka mempersiapkan air sirih dan tembakau untuk disemburkan kepada polisi yang menghalangi mereka masuk ke kantor Wali Kota Medan. (lagi…)
Karo dan Perfilman Nasional
Suatu kemajuan pesat yang diberikan oleh orang-orang Karo yang telah mendedikasikan hidupnya untuk perfilman nasional. Kenapa saya bilang pesat ? Karena saat ini Karo sudah mempunyai aktor yang paling senior dari segi umur dan pengalaman sampai yang paling junior. Untuk itu saya sedikit memberikan turi-turin tentang sepak terjang orang Karo dalam kancah perfilman nasional. Karena mungkin film merupakan sudah menjadi bagian dari hidup saya saat ini. (lagi…)
Hari gini belum…Karo
Karo dan Kekaroan semakin luntur. Kesimpulan penting untuk disingkapkan. Sebuah motivasi akan saya jabarkan sedikit untuk menanggulangi semakin lunturnya Karo dan kekaroan kita.
Sebuah iklan yang sedang beredar dipercaturan televisi Indonesia. Saya tidak bermaksud mempromosikan iklan itu. Tidak sedikitpun keterkaitan saya dengan produk yang ditawarkan. Tapi saya tertarik untuk mengangkat “keyword” yang dimiliki iklan tersebut. (lagi…)
Karo dan Olahraga
Sebuah tambahan kecil atas tulisan bang Juara di Soramido XIII “Karo Baru dan Marco Van Basten”. Sebuah pertandingan special memang ketika saya menyaksikan pertandingan itu di layar kaca televisi tanah air. Belanda menang 2-0 atas Rumania. Tentu menarik disimak karena saya juga penggemar sepak bola sama seperti penulis. Hanya berbeda tim favorit saja. Saya lebih menyukai Italia, untuk urusan klub dari dulu saya memang tifosi Internazionale Milano sejati. Dalam negeri? Tentu PSMS Medan menjadi klub yang telah mendarah daging turun temurun keluarga saya. Konon tokoh utama saya dalam Cerita “Sibayak” Hana de Jong diilhami dari seorang pemain muda Belanda keturunan Suriname beroperasi di sektor sayap yang memperkuat Ajax Amsterdam, Nigel de Jong.
Untuk itu saya tertarik untuk membahas tentang “Karo dan Olahraga”. Seberapa banyak orang Karo yang mengharumkan nama bangsa atau Karo sendiri dalam bidang olahraga ? Jari tangan cukup untuk menghitung semuanya. (lagi…)
BAHASA KARO…OH…BAHASA KARO
Jangan katakan dirimu Karo
Kalau kau tidak bisa berbahasa Karo
Buka saja topeng kekaroanmu
Karena aku benci Karo Dibalik Topeng
(Joey Bangun, KARO DIBALIK TOPENG)
Berapa diantara kita yang membaca tulisan ini yang mengerti, atau bisa/fasih/pasif menuturkan bahasa Karo? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab kepada saya. Tapi cukup dijawab di hati saudara. Coba sekali lagi renungkan penggalan monolog yang saya tuliskan di atas dan coba raba-raba dimanakah kedudukan anda sekarang. Selagi anda masih meraba-raba, saya sudah menyimpulkan “kebudayaan Karo diambang krisis identitas”.
Dalam ilmu antropologi bahasa/language dikenal dengan sistem perlambang yang secara arbitrer dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia, dan yang digunakan sebagai sarana interaksi antar manusia. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Di sisi lain dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan sebuah identitas suku/bangsa. (lagi…)
Percintaan Karo Tempo Doeloe
Percintaan masyarakat Karo tempo dulu sangat unik. Tempo dulu yang dimaksudkan disini adalah masa dimana rumah adat Karo masih ada sebelum dibumihanguskan di zaman revolusi tahun 1947.
Tentu saja tidak seperti zaman sekarang yang kesemuanya begitu mudah. Gaya bercinta masyarakat Karo dahulu begitu penuh liku-liku. Segala perjuangan untuk mendapatkan jantung hati harus secara gigih dengan berbagai ketentuan adat sebagai hukum tak resmi. (lagi…)
Karo dan Sifat Merganya
Sebuah konteks dalam sifat setiap manusia tidak lepas dari aspek psikologis (kejiwaan) manusia itu sendiri. Dengan kebesaran kuasaNya, Tuhan menciptakan manusia dengan keberagaman sifat. Tentu setiap manusia di muka bumi ini diciptakan dengan sisi baik dan buruknya.
Manusia Karo juga tidak terlepas dari keberagaman sifat (biak) itu. Sifat yang dimiliki setiap individu Karo tentu berbeda-beda. Tapi ada sifat dasar pembawaan dari merga yang dipakainya. Mungkin juga sifat ini didasarkan beberapa sebab seperti satu keturunan (terombo), satu kampung berikut kebiasaan dan tradisinya sampai letak geografis tempat tinggal.
Dibawah ini akan dijabarkan sedikit tentang sifat-sifat (Biak-biak) Si Lima Merga. Penulis meriset semua sifat-sifat ini dari wawancara dengan orang-orang tua, beberapa tulisan juga pengalaman pergaulan dari kehidupan sebagai orang Karo di tengah tatanan budaya Karo yang kental. (lagi…)
Mengapa Sastra Karo Tidak Pernah laku?
Mengapa demikian? Suatu alasan sederhana, setiap sesuatu yang berbau Karo selalu susah laku. Terutama jika kita menjualnya pada orang Karo itu sendiri. Tapi tidak pada orang lain (diluar orang Karo). Mungkin hal ini disebabkan orang Karo sendiri menganggap sesuatu tentang Karo adalah kampungan. Atau bahkan bentuk kesadaran orang Karo pada budaya, seni dan alamnya semakin memudar.
Kalau hal ini menjadi acuan, sungguh sangat disayangkan. Untuk itu saya menarik benang merah tentang sastra Karo. Berapa buku yang telah dilahirkan penulis Karo tentang budaya Karo ? Sebenarnya cukup banyak. Kalau kita bisa menyebut beberapa nama lama yang berdedikasi tinggi seperti Sempa Sitepu, Masri Singarimbun, Payung Bangun, Darwan Prinst, Brahma Putro, Dkn P. Sinuraya, R. Tarigan Pekan dsb. Tapi apakah buku-buku yang mereka tulis laku di pasaran ? Maaf adakah pembaca yang bisa membantu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan saya di atas ini? Karena pada waktu mereka menulis, saya masih kecil dan belum tahu apa-apa. Terlebih kesadaran akan Karo dan kekaroan itu sendiri. belum terbangun secara maksimal. (lagi…)
Kesenian Karo diantara Dinamika Kesenian Nasional
Bagaimanakah sepak terjang kesenian Karo diantara dinamika kesenian Nasional? Sebuah pertanyaan penting untuk dijawab. Ketika kita harus dihadapkan pada kenyataan kesenian Karo diantara dilematis kesenian Nasional.
Pada tanggal 26 – 30 September 2005 bertempat di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, diadakan Kongres Kesenian Indonesia II. Lebih kurang 400 orang seniman, budayawan dan sastrawan dari seluruh Indonesia hadir. Kebetulan saya dan Yulianus Limbeng ditunjuk untuk mewakili kesenian Karo. Kongres Kesenian Indonesia ini sendiri dimaksudkan untuk mendengarkan aspirasi dari daerah seluruh Indonesia sekaligus untuk merumuskan undang-undang kesenian Indonesia. (lagi…)
Kedudukan Kebudayaan Karo Ditinjau Dari Aspek Keseniannya
Sebuah etnik (suku) tidak bisa terlepas dari unsur keseniannya. Kesatuan alam, budaya dan seni merupakan perwujudan menyeluruh dari sebuah etnik. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan ragam etnik juga mempunyai keragaman kesenian yang dimiliki masing-masing etnik tersebut.
Suku Karo sebagai salah satu etnik dari beratus etnik yang dimiliki Nusantara tentu memiliki keunikan kesenian tersendiri. Keunikan Kesenian Karo inilah yang menjadi kebanggaan suku Karo dalam menjalankan tutur budayanya. Tapi potensi dan pengembangan kesenian Karo tidak bisa terlepaskan dari bagaimana masyarakat Karo dalam mengapresiasikan kesenian Karo itu sendiri.
Untuk itu dibawah ini sedikit terpaparkan paparkan apa, bagaimana dan mengapa kesenian Karo dalam konteks perkembangan budayanya. Semoga hal ini menjadi renungan bagi kita sebagai insan Karo dalam menyikapi kekayaan budaya yang kita miliki.
I. Seni Sastra.
Bahasa Karo adalah bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat Karo. Ruang lingkup penggunaan bahasa itu sendiri tidak mengenal ruang dan waktu. Dimanapun dan pada saat kapanpun jika ada sesama Karo bertemu ataupun bukan orang Karo tapi mengerti bahasa Karo berhak untuk berdialog dengan bahasa Karo. (lagi…)
Karo dan Pemudanya
Hal menarik jika kita memperbincangkan tentang peranan pemuda Karo berikut sepak terjangnya dalam tatanan berkebangsaan di negeri tercinta ini. Sementara pemuda itu sendiri adalah generasi muda yang menjadi cikal bakal pemimpin negeri.
Setiap suku di Indonesia tentu mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Keanekaragaman sifat dan karakter itu justru menjadikan beberapa suku unggul dibanding suku lain dalam menyumbangkan pemuda-pemudanya di berbagai aspek dalam pembangunan nasional.
Tapi bagaimanakah dengan pemuda Karo? (lagi…)


Komentar