Art is My Blood

Kedudukan Kebudayaan Karo Ditinjau Dari Aspek Keseniannya

Sebuah etnik (suku) tidak bisa terlepas dari unsur keseniannya. Kesatuan alam, budaya dan seni merupakan perwujudan menyeluruh dari sebuah etnik. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan ragam etnik juga mempunyai keragaman kesenian yang dimiliki masing-masing etnik tersebut.

Suku Karo sebagai salah satu etnik dari beratus etnik yang dimiliki Nusantara tentu memiliki keunikan kesenian tersendiri. Keunikan Kesenian Karo inilah yang menjadi kebanggaan suku Karo dalam menjalankan tutur budayanya. Tapi potensi dan pengembangan kesenian Karo tidak bisa terlepaskan dari bagaimana masyarakat Karo dalam mengapresiasikan kesenian Karo itu sendiri.

Untuk itu dibawah ini sedikit terpaparkan paparkan apa, bagaimana dan mengapa kesenian Karo dalam konteks perkembangan budayanya. Semoga hal ini menjadi renungan bagi kita sebagai insan Karo dalam menyikapi kekayaan budaya yang kita miliki.

I. Seni Sastra.

Bahasa Karo adalah bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat Karo. Ruang lingkup penggunaan bahasa itu sendiri tidak mengenal ruang dan waktu. Dimanapun dan pada saat kapanpun jika ada sesama Karo bertemu ataupun bukan orang Karo tapi mengerti bahasa Karo berhak untuk berdialog dengan bahasa Karo.

Seni sastra bahasa Karo tingkat tinggi seperti “Cakap Lumat”. Cakap lumat adalah dialog diselang-selingi dengan pepatah, perumpamaan, pantun dan gurindam yang digunakan untuk sepasang kekasih untuk saling menggoda. Misalnya dahulu seorang pemuda bercintaan dengan seorang gadis di ture (teras rumah adat) maka untuk menarik perhatian gadis tersebut dia menggunakan cakap lumat.

Seni sastra Karo dapat digolongkan beberapa jenis yaitu : pantun, gurindam, anding-andingen (sindiran), kuan-kuanen (perumpamaan), bintang-bintang (mirip pantun), bilang-bilang (cetusan rasa sedih), cerita mitos, legenda dan cerita rakyat.

Bahkan bilang-bilang ditulis dengan aksara Karo di sepotong bambu. Isinya adalah jeritan hati sipenulisnya. Bilang-bilang tersebut terfokus pada suasana kepedihan. Oleh karena itu ada juga yang mengatakan bilang-bilang sebagai “dengang duka.”

Sama halnya dengan daerah lain di Indonesia, Karo juga mempunyai legenda dan cerita rakyat. Misalnya cerita Pawang Ternalem, Putri Hijau, Sibayak Barus Jahe, Guru Pertawar Reme, Si Beru Rengga Kuning, Beru Karo Basukum, Dunda Katekuten, Beru Ginting Pase, Baru Tarigan Tambak Bawang, Kak tengkok bungana, Siberu Tandang Kemerlang, Tera Jile-jile, Kerbo Sinanggalatu, Perpola, Singelanja Sira, Gosing Si Ajibonar dan lain sebagainya.

Aksara Karo merupakan salah satu bentuk kekayaan sastra Karo. Menurut sejarahnya aksara Karo bersumber dari aksara Sumatera Kuno yaitu campuran aksara Rejang, Lebong, Komering dan Pasaman. Kemungkinan aksara ini dibawa dari India Selatan, Myanmar/Siam dan akhirnya sampai ke Tanah Karo. Aksara ini hampir mirip dengan Simalungun dan Pakpak Dairi. Aksara Karo dulu ditulis di kulit kayu, tulang dan bambu.

II. Seni Musik.

Alat musik tradisional suku Karo adalah Gendang Karo. Biasanya disebut Gendang “Lima Sedalinen” yang artinya seperangkat gendang tari yang terdiri dari lima unsur.

Unsur disini bisa kita lihat dari beberapa alat musik tradisional Karo seperti Kulcapi, Balobat, Surdam, Keteng-keteng, Murhab, Serune, Gendang si ngindungi, Gendang si nganaki, Penganak dan Gung. Alat tradisional ini sering digunakan untuk menari, menyanyi dan berbagai ritus tradisi.

Jadi Gendang Karo sudah lengkap (lima sedalinen) jika sudah ada Serune, Gendang si ngindungi, Gendang si nganaki, Penganak dan Gung dalam mengiringi sebuah upacara atau pesta.

Tapi sekarang perkembangan musik Karo sudah terkontaminasi dengan alat modern semacam keyboard. Era masuknya musik keyboard ke dalam kesenian Karo sekitar tahun 1990an. Musik keyboard sudah mendominasi kesenian Karo, sehingga timbul kesimpulan jika tidak ada Keyboard maka gendang Karo itu tidak ramai.

III. Seni Suara.

Diperkirakan dibawah tahun 1800an suku Karo belum mengenal seni suara secara nyata. Kemudian dalam perkembangannya muncullah lagu-lagu yang dibawakan seseorang sebagai ‘perende-rende’ (penyanyi). Lagunya masih cenderung sedih. Lagu ini biasa dibawakan untuk mengantar cerita atau memuja seseorang. Juga menyampaikan doa seperti lagu didong-didong.

Setelah perkembangannya lagu-lagu Karo mulai diiringi oleh gendang Karo sebagai musiknya. Yang membawakan lagu ini baik laki-laki maupun perempuan disebut permanga-mangga dan akhirnya beralih nama menjadi perkolong-kolong.

Banyak lagu Karo diciptakan dari generasi terdahulu sampai sekarang. Sebagai contoh komponis Karo yang telah melegenda adalah Djaga Depari.

IV. Seni Tari.

Tari dalam bahasa Karo disebut “Landek.” Pola dasar tari Karo adalah posisi tubuh, gerakan tangan, gerakan naik turun lutut (endek) disesuaikan dengan tempo gendang dan gerak kaki. Pola dasar tarian itu ditambah dengan variasi tertentu sehinggga tarian tersebut menarik dan indah.

Tarian berkaitan adat misalnya memasuki rumah baru, pesta perkawinan, upacara kematian dan lain-lain.

Tarian berkaitan dengan ritus dan religi biasa dipimpin oleh guru (dukun). Misalnya Tari Mulih-mulih, Tari Tungkat, Erpangir Ku Lau, Tari Baka, Tari Begu Deleng, Tari Muncang, dan lain-lain.

Tarian berkaitan dengan hiburan digolongkan secara umum. Misalnya Tari Gundala-gundala, Tari Ndikkar dan lain-lain.

Sejak tahun 1960 tari Karo bertambah dengan adanya tari kreasi baru. Misalnya tari lima serangkai yang dipadu dari lima jenis tari yaitu Tari Morah-morah, Tari Perakut, Tari Cipa Jok, Tari Patam-patam Lance dan Tari Kabang Kiung. Setelah itu muncul pula tari Piso Surit, tari Terang Bulan, tari Roti Manis dan tari Tanam Padi.

V. Seni Pahat (Ukir).

Keragaman seni pahat dan ukir suku Karo terlihat dari corak ragam bangunannya. Dulu orang yang ahli membuat bangunan Karo disebut “Pande Tukang.”

Hal ini terlihat dari jenis-jenis bangunan Karo seperti Rumah Siwaluh Jabu, Geriten, Jambur, Batang, Lige-lige, Kalimbaban, Sapo Gunung, dan Lipo.

Seni ukir yang menjadi kekayaan kesenian Karo terlihat pada setiap ukiran bangunannya seperti Ukir Cekili Kambing, Ukir Ipen-Ipen, Ukir Embun Sikawiten, Ukir Lipan Nangkih Tongkeh, Ukir Tandak Kerbo Payung, Ukir Pengeretret, dan Ciken.

VI. Seni Drama.

Seni drama tergolong langka pada masyarakat Karo. Kalaupun ada biasanya berhubungan dengan tarian seperti Tari Mondong-Ondong yang berhubungan dengan drama Perlanja Sira (Pemikul Garam), Tari Tungkat dan Tari Guru.

Tidak bisa disangkal lagi kedudukan suatu kebudayaan akan lebih lagi mendapat pengakuan jika ada pengakuan dari kreatifitas keseniannya dan bagaimana etnik tersebut mengembangkan unsur keseniannya.

Pengembangan dan pelestarian kesenian Karo saat ini sudah masuk dalam taraf memprihatinkan. Kita tidak boleh begitu saja menyalahkan para seniman Karo yang selalu saja berusaha mencari cara bagaimana agar kesenian Karo dapat berkembang dan lestari. Tapi keberlangsungan kesenian Karo tersebut terletak pada masyakarakat Karo sendiri bagaimana mengapresiasikan kekayaan keseniannya.

Sekali lagi, keberlangsungan kesenian Karo tidak hanya terletak di bahu para senimannya. Tapi juga peran serta masyarakat Karo dalam melestarikan dan menghargainya.

Alangkah baiknya jika kita tumbuhkan rasa memiliki, melestarikan dan menghargai akan perkembangan kesenian Karo. Hingga Kesenian Karo itu tidak pernah mati.

Bujur ras Mejuah-juah kita kerina.

About these ads

21 tanggapan

  1. davidson surbakti

    Kami tidak menemukan foto jenis-jenis ulos karo, juga tarian karo

    November 17, 2008 pukul 1:58 pm

  2. meiyana sebayang

    Shalom.
    mejuah-juah, adi perhiasan si ipake pengantin kalak karo..lit nge ertina.adi lit banci tolong jelaskenndu. bujur

    November 24, 2008 pukul 9:39 am

  3. Ping-balik: Sastra Karo « Kutaraya0405’s Blog

  4. Ping-balik: Seni Musik « Kutaraya0405’s Blog

  5. Ping-balik: Seni Suara (Lagu Karo) « Kutaraya0405’s Blog

  6. kalak karo melala si pekisat. kena kai kin e…?

    Februari 1, 2009 pukul 5:33 am

  7. nensy

    mejuah-juah..
    sya mahasiswa psikologi smt IV di semarang.
    karo tulen, beru sitepu bere sembiring.
    beberapa waktu lalu ketertarikan saya akan budaya karo mulai bertumbuh, sayang untuk literatur belum sempat cari.
    saya berpkir untuk mengangkat tentang didong-didong karena asumsi saya, doa yang dinyanyikan secara khusus kepada anak-anak yang baru lahir itu punya efek psikologis yang positif terhadap perkembangan anak.
    mohon bantuan informasi literatur ataupun orang yang mengerti tentang bagian ini.
    Thanks sebelumnya.

    Maret 5, 2009 pukul 4:41 am

    • Boy Ginting

      Didong -didong anak lampas mbelin
      I didong maka ula gutul
      doah didong anakku lampas gedang gelah ola gutul
      ikuti ajar orang tua
      ola nimbak ajar orang tua.
      Kata-kata lainnya dapat anda tambahi dengan kata hati anda
      mungkin Dengan penambahan Nama2 Tuhan.

      Mei 2, 2010 pukul 4:44 am

  8. o bang lit bas kam artikel tentang musik karo misaln angerengget ntah nuri2 perlu kang nge janah dalam waktu dekat kami ras kelompk kami ate kami erbahan pementasan musik tradisional kolaborasi je mungkin aku perlu sitik tukar pikiren man kam bujur.kelang 2 rananta adi lit artikel musik karo ndai post ken sitik ya ,.bujur

    Mei 13, 2009 pukul 7:22 am

  9. Satu saat kita boleh bersama sama melihat Pelangkah Pengincep-ngincepen kuda Pengulu Tambak Bawang ras ingan perjudin gelarna Tampe-tampe Sangga Manuk, em i babo Sabah Ngaskas ras abah Terter, kelang kelang kuta Bawang, Tambak Bawang ras Toras (enggo masap kuta sie), Kecamaten Dolok Silau Kabupaten Simalungun. (Tarigan Tambak dari Bawang (Bawang, Ujung Bawang, Tambak Bawang, Cingkes) adalah yang menjadi Raja di Urung Silau, yang akhirnya bersatu dengan Urung Dolok menjadi Kecamatan Dolok Silau dengan ibu kota Saranpadang.

    Mei 22, 2009 pukul 10:57 am

    • tarigan

      Asal ku dari Cingkes, bapa dari Ujung Bawang, tp tidak pernah tau ada kuta Toras ? bisa dijelaskan sebelah mana ?

      Juni 17, 2011 pukul 9:36 am

  10. orang tua ikut bertanggung jawab bila anak generasi kini maupun generasi mendatang tidak lagi mau ataupun malu menggunakan bahasa KARO.

    September 20, 2009 pukul 4:33 am

  11. Bujur ras Melala…
    dan sukses selalu…

    November 17, 2009 pukul 8:08 am

  12. Ping-balik: Kedudukan Kebudayaan Karo Ditinjau Dari Aspek Keseniannya

  13. may

    salute untuk joey… semangat terus.. top markotop nih tulisannya

    Juli 28, 2010 pukul 6:35 am

    • joeybangun

      Bujur ya…

      Agustus 25, 2010 pukul 4:39 am

  14. kembaren

    adi tentang ritual ndilau udan la lit bas kam pal?

    Oktober 5, 2010 pukul 3:16 pm

  15. karena abang begitu mengenal dan mengerti budaya
    karo maka saya minta tolong abang untuk membantu saya dalam penggarapan pentas teater tentang guru pertawar remei(sblmnya sdh pernah sy garap tp ingin saya olah lg dr segi yg lain),mgkn nanti bisa melalui email?

    bujur melala

    Oktober 20, 2010 pukul 5:56 am

  16. .ko nggak ada macam2 tarian suku karo nya ?
    .nggak ada sistem religinya
    .nggak ada sistem mata pencaharian hidup & teknologinya
    .nggak ada sistem pengetahuannya
    .udah di cari tapi banyak nya pdf terus
    .makasih

    Oktober 29, 2010 pukul 8:04 am

  17. Anta Pratama Mnanagin

    Kalau pantun karo gmana y???

    Agustus 24, 2011 pukul 2:07 am

  18. reki nelson barus

    UGA CARANA GELAHNA ULA “ACC” Anceng cian cikurak…..

    September 9, 2012 pukul 6:05 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.