Entah kenapa,
seribu kali aku panggil namanya
tapi tak jua ada sahutan
di ujung malam terdengar sahutan
Oh Tuhan,
kenapa aku tidak melihat dia tersenyum
Entah kenapa,
seribu kali aku panggil namanya
tapi tak jua ada sahutan
di ujung malam terdengar sahutan
Oh Tuhan,
kenapa aku tidak melihat dia tersenyum
Tuhan, jika aku bertemu denganMu malam ini
ingin aku memelukMu dan menyentuh wajahMu
dan berbisik di telingaMu
“lepaskan aku dari penderitaan ini”
-
Sungguh aku tidak tahu apa yang telah terjadi dalam hidupku hari ini. Aku tidak pernah tahu. Semua rencana buyar sudah. Yang kulakukan hanya meratap dan mencucurkan air mata. Mencoba mengerti dan menerima apa yang terjadi.
Mungkin fatamorgana kehidupan telah guratkan warna-warni hidupku. Jika aku tidak pernah mengingat Sang Penciptaku, Fajar Harapanku, mungkin saja sesuatu akan terjadi hari ini.
Sungguh aku sudah letih….
Cinta…
Sudah lama kunanti ketulusanmu
Kekosongan selalu menghiasi hari-hariku
Tanpa dorongan kekuatan yang dinamakan
Cinta…
Kuharap kau selalu ada
Hingga ku tak sendiri lagi meratap kesepian
Mengulum keremangan malam kesendirian karena tidak ada
Cinta…
Kurasakan hadirmu malam ini
Kutatap warna warni menghias dinding kamarku
Karena kubias harapan dengan
Cinta…
Lekukanmu indah menari dalam gairah
Api sorgawi meyulut kebekuan hati
Kukerling pandangan untuk
Cinta…
Aku bersyukur memilikimu
Mengembara dalam aliran darahku
Menggelegar tak sadar hanya karena
Cinta…
Kuharap kau tidak berlari meninggalkanku
Terhenyak sendiri meratap tangisan
Sebatang kara menjelajah mencari yang namanya
Cinta…
Kau buat aku tak sendiri lagi
Dan kuharap inikan abadi
Hingga akhir hayatku aku hanya mengatakan
Cinta…
Aku tulis kisah ini karena aku sedang mengagumi Tuhan. Aku percaya padaNya. Tapi setelah menyaksikan semua yang terjadi, aku tambah percaya lagi padaNya. Semua ada waktuNya, kata firmanNya di Pengkotbah 3 : 11a. Firman itu pernah diberikan oleh seorang gadis yang aku cintai dan pernah aku tempel di dinding kamar kosku selama 6 tahun di Bandung dulu.
Hari ini sebetulnya biasa aja. Aku tetap berkecamuk dengan persoalanku. Tapi betapa mujizat karyaNya. Dia berhasil mendorongku untuk menyelesaikan proposal itu tepat setelah gadis itu mengabarkanku untuk bertemu di Kemang.
Dia tahu kondisiku. Dia tahu persoalanku. Dia tahu usahaku. Dia tahu perjuanganku. Dia tahu air mataku. Dia tahu semuanya. Dia memang memiliku. Dia adalah Tuhan yang aku kasihi. Tuhan yang mengangkatku dari lembah kekelaman dan gelimang dosa. Semua tepat dan sesuai dengan kondisiku. Dia telah mengejutkan aku dengan karyaNya. Betapa dahsyatNya rajutan hidupku.
Aku tutup hari ini dengan sejuta senyuman. Betapa kini aku jatuh hati pada gadis itu. Tuhan, ijinkan aku menulis puisi terindah untuknya.
Jumat pagi agencyku mengsms bahwa ada casting untuk sebuah FTV di Stravision. Aku langsung tertarik, karena memang aku butuh peluang ini. Jam 3 aku berangkat ke PH itu. Orang-orang sudah ramai pada menunggu giliran di casting. Aku mendaftar dan diberikan dialog sebagai penjahat. Berulangkali aku dapat peran ini. Mungkin karena memang tampangku seperti penjahat.
Betapa terkejutnya aku. Setelah giliran casting. Aku mendapati bang Tono, co-director MD Entertainment yang mengcasting aku. Terjadilah langsung suasana akrab sesama pekerja film. Bukan apa-apa, aku pernah bekerja di MD Entertainment sebagai asisten sutradara, dan berkali-kali pula aku bertemu dengan bang Tono.
Bang Tono mentes aku sebagai peran penjahat. Terlihat dia puas. Buktinya dia menyuruh aku berganti peran sebagai Billy, seorang seniman yang hasil karyanya dibajak orang lain. Dengan cepat aku menghafal dialog yang disediakan. Bang Tono kembali mentes aku. Terlihat dia puas, dan akan mengontak aku kembali.
Aku turun ke lantai 1. Disana juga ada casting. Ternyata film layar lebar Love Story karya Mas Hannya R Saputra. Kebetulan pikirku, berhubung aku pernah mewawancara mas Hanny dalam sebuah tugas waktu aku masih sekolah film dulu. Aku sedikit kecewa ternyata Mas Hanny tidak datang. Hampir 3 jam aku menunggu hingga mendapat giliran casting. Ternyata di pintu casting tertulis yang dibutuhkan adalah peran bapak-bapak. Bukan karakter aku. Ternyata aku salah casting. Aku tidak mau mundur gitu saja. Aku langsung masuk dan ternyata aku dikasih adegan seorang bapak yang anaknya tenggelam di sungai! (lagi…)
Secara pribadi saya mohon doa restu pada rekan-rekan semua untuk mengikuti Lokakarya Manajemen Organisasi Budaya yang diselenggarakan yayasan Kelola dan lembaga Manajemen PPM. Kebetulan saya mendapat beasiswa untuk pendidikan setelah aplikasi yang saya ajukan lolos seleksi.
Yayasan Kelola adalah yayasan yang mengembangkan kesenian Indonesia. Yayasan ini bermitra kerja dengan Ford Foundation, Asian Cultural Council, Asia Link Centre, Hivos, dan Unesco-Aschberg Burssaries. Bapak Jabatin Bangun, sekjend Dewan Kesenian Jakarta juga pernah menjadi panel seleksi di yayasan ini. Websitenya www.kelolaarts.or.id
Hal ini akan semakin memotivasi saya untuk mempelajari manajemen organisasi budaya dan mengaplikasikannya pada kebudayaan Karo. Ilmu yang saya dapat nanti semoga dapat saya kembalikan untuk pengembangan kebudayaan Karo yang kita cintai.
Selain itu sehubungan dengan adanya pertunjukan Pawang Ternalem tanggal 25 Oktober ini, teori yang saya dapat bisa langsung saya praktekkan dalam memanajemen komunitas seni Teater aron nanti.
Terpilihnya saya karena pertimbangan panitia dalam pengembangan kebudayaan Karo. Saya ada disana memang karena Karo. Untuk itu sekali saya mohon doa restu dari rekan-rekan semua.
Kepada Yth:
Joey Adi Citra Bangun
Jl. Swadaya V no. 38
Cempaka Baru
Jakarta Pusat 10650
E: joeybangun@yahoo.com
Dengan hormat,
Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu mengirimkan formulir pendaftaran dan biodata untuk seleksi beasiswa calon peserta pendidikan jangka pendek Seri: Manajemen Organisasi Budaya di Lembaga Manajemen PPM, pada tanggal 12 – 16 Mei 2008.
Berdasarkan hasil review oleh tim seleksi Kelola, bersama ini kami beritahukan dengan senang hati bahwa Bapak/Ibu telah diterima sebagai peserta pendidikan tersebut. (lagi…)
Judul diatas adalah ungkapan hatiku. Saat aku terkadang ada dipersimpangan jalan, saat itulah kata-kata diatas kembali mengiang dalam sanubariku. Seni itu adalah hidupku bukan pilihanku.
Sampai sekarang aku tidak pernah berpikir akan menjadi seniman. Saatku kecil juga tidak. Sampai kapanpun aku tidak berharap untuk menjadi seniman. Karena seniman bukanlah pilihanku. Dia tidak pernah kupilih untuk menjadi profesiku. Namun sekarang dia tetap melekat dalam hidupku.
Sampai aku lulus SMA, aku tidak pernah mencita-citakan menjadi seniman. Bahkan aku bercita-cita untuk menjadi AKABRI. Lalu keinginanku untuk menjadi seorang insinyur elektro. Tapi kenapa seni terus melekat erat walau aku berusaha melepaskannya.
Baru aku sadar, kita tidak pernah apa yang akan terjadi esok. Tidak pernah terpikirkan olehku akan menjalani hidup seperti ini. Orang-orang disekelilingku kadang tidak mengerti mengapa aku memilih hidup seperti ini. Padahal dari dulu seni bukan pilihanku, entah kenapa dia ditakdirkan menjadi hidupku.
Tuhan, jika Engkau telah memateraikan jubah kesenian dalam hidupku. Buatlah ini menjadi penopang hidupku. Sadarkan aku dan orang sekelilingku kalau ini sudah menjadi hidupku. Sungguh aku tidak berharap semua kan terjadi.
Seseorang mendatangi saya ketika selesai pementasan drama Ginting Suka kemarin. Dia menawarkan saya untuk menangani drama baru di bulan Mei nanti. Langsung saja saya tolak. Bukan apa-apa, saya harus kembali ke film. Kalau hanya menangani drama di lingkungan Karo, kapan cita-cita dan obsesi saya bisa kesampaian.
Dia melihat saya masam. Dia merasa kecewa karena saya tolak. Tapi apa boleh buat. Itu merupakan planning saya tahun ini. Tiga bulan ini saya fokus dulu ke film baru bulan 7 kembali lagi ke teater untuk menggarap salah satu mahakarya saya Pawang Ternalem yang akan dipentaskan Oktober nanti.
Suka atau tidak suka. Ini merupakan rencana hidup saya. So, film… aku akan kembali padamu. Maaf, engkau kecewa karena aku meninggalkanmu selama ini.
Bayangkan,
Beberapa jam sebelum pentas tiba-tiba hp saya berdering, dan pimpro drama Ginting Suka mengabarkan kalau salah seorang pemain mengundurkan diri. Suaminya tiba-tiba kena serangan jantung. Pemain itu yang memerankan Guru Sibaso. Pimpro memberikan alternatif nama baru sebagai pengganti. Langsung saja saya tolak. Bukan apa-apa, saya tidak yakin dengan pilihannya. Saya pun harus naik panggung dan memerankan peran guru itu. Cuma sedikit dirubah, namanya bukan lagi Guru Sibaso tapi Guru Mbelin.
Untung saja,
Kenapa untung? Untung saja pemain yang memerankan Guru Sibaso yang mengundurkan diri. Perannya tidak ada dialog. Hanya menari. Kalau saja ada pemain lain yang full dialog yang berhalangan. Bisa dibayangkan betapa stressnya saya. Puji Tuhan, mungkin ini merupakan terbaik. (lagi…)
Jujur,
Ini adalah sebuah kehormatan besar yang diberikan pihak Sembiring Brahmana kepada saya. Kehormatan untuk mencari jati diri asal muasal merga itu. Padahal saya masih muda. Paling tidak untuk menjadi seorang budayawan, usia saya masih terlalu muda. Tapi kenyataan dan kepercayaan telah menghadapkan saya pada proses untuk menjadi budayawan itu sendiri.
Pertemuan diawali di gereja GBKP Jakpus. Ketika itu beberapa tokoh gereja memanggil saya untuk sharing tentang acara Mburo Ate Tedeh Brahmana Se-Jabodetabek tanggal 13 April 2008. Dengan berani saya mengatakan saya akan membacakan cerita/monolog tentang asal usul Brahmana. Mereka kaget dan langsung tertarik. “Saya akan menyiapkan segalanya!” kata saya dengan pasti. (lagi…)
SEMBIRING BRAHMANA
sembiring brahmana
MEGIT BRAHMANA
Pada abad 16, Seorang Guru Mbelin dari India bernama Megit Brahmana datang ke Tanah Karo. Kedatangan Megit Brahmana ke Tanah Karo pertama kali ke kampung Sarinembah, tempat seorang muridnya dulu di India berkasta Kstaria Meliala bermukim. Brahmana disebut juga golongan Sarma atau tertinggi dalam kasta di India.
Bersama muridnya ini Megit Brahmana berangkat menuju kuta Talun Kaban (sekarang Kabanjahe) dimana ada sebuah Kerajaan Urung XII Kuta yang rajanya adalah Sibayak Talun Kaban bermerga Purba.
Di daerah itu dia disambut hangat oleh Sibayak dan rakyatnya. Megit Brahmana menuturkan pada Sibayak ingin menyebarkan agama pemena (baca : Hindu) di daerah itu. Maksud kedatangan Megit dan muridnya ini disambut hangat oleh raja dan rakyatnya. Di daerah itu pula Megit Brahmana kemudian disegani sebagai pemuka agama. Sibayak lalu mengangkatnya sebagai penasehat pribadinya.
SEMBIRING BRAHMANA
sembiring brahmana
Brahmana adalah salah satu merga suku Karo dari golongan Sembiring. Diduga berasal dari India. Merga ini digolongkan dengan Sembiring Singombak yaitu Sembiring yang melakukan ritual pembakaran mayat yang kemudian abunya dihanyutkan ke sungai Lau Biang yang dipercaya akan bertemu dengan sungai Gangga di India.
Merga Sembiring Brahmana berasal dari kuta Rumah Kabanjahe, Perbesi, Limang, Bekawar, Singa, dan Deli Tua.
Sembuyak merga Brahmana dalam golongan Sembiring adalah Gurukinayan, Pandia, Colia, dan Muham. Sembuyak disini artinya keturunannya tidak boleh saling kawin mengawini.
JOEY BANGUN
MBURO ATE TEDEH
SEMBIRING BRAHMANA RAS ANAK BERUNA
JABODETABEK
———————————————————————-
Orasi Budaya – Monolog
JOEY BANGUN
dalam
Turi-Turin Asal Usul
SEMBIRING BRAHMANA
ILUSTRASI TURI-TURIN
enden nuri-nuri
AGUSTINA br PELAWI
GENDANG KARO
sarune
MARDI SEMBIRING
gendang singindungi
JUNIANTO MELIALA
gendang singanaki
ALASEN BARUS
gung ras penganak
MINSON GINTING
PENASEHAT
PROF. DR. IR. FIRMAN TAMBUN
INGET SEMBIRING BRAHMANA
GANTI SEMBIRING BRAHMANA
KOL (PURN) MAJEK SEMBIRING BRAHMANA
ACARA
DITTOPAD – SENEN
Minggu, 13 April 2008
Pkl 14.00 – selesai