Saat itu Juni 2006, sebulan setelah kami meraih rekor MURI untuk dua pertunjukan di Bandung yaitu Gertak Lau Biang (Joey Bangun) dan Waiting for Godot (Samuel Beckett) dalam festival drama 7 bahasa 36 jam nonstop. Siang itu kami bertemu di sebuah rumah di daerah Cempaka Putih Utara milik seorang Sebayang salah satu direktur BUMN di Sumut saat ini. Kami itu adalah saya sendiri, Sion Junita br Sembiring, dan Anita br Pinem (kakak dari pemain sinetron Ana Pinem alias Mbok Tum). Yang kami bicarakan adalah konsep. Konsep untuk sebuah program ke depan. Saya menyarankan untuk mementaskan Pawang Ternalem. Karena cerita ini unik dan punya kekuatan sendiri. Akhirnya setelah berdiskusi kami menetapkan untuk mementaskan drama itu tanggal 13 Oktober 2006 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Saya menjadi sutradaranya, Sion Junita menjadi Pimpinan Produksinya, dan Anita br Pinem di bagian artistik. Kami kemudian sepakat visi dan misi pertunjukan ini adalah untuk pengembangan dan pelestarian kebudayaan Karo. (lagi…)
Dalang
Tadi sore aku bertemu seorang teman yang aku pilih sebagai fundraising (penggalang dana) untuk pertunjukanku Pawang Ternalem 25 Oktober nanti. Teman itu aku pilih karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh Karo. Kapasitasnya sangat kubutuhkan untuk menjalankan produksi ini.
Sesuai janji, kami bertemu di sebuah kede kopi milik seorang Karo di Cililitan. Sebelum sampai ke tempat itu ternyata aku dihadang massa di UKI yang sedang demo karena kenaikan BBM. Walau begitu, akhirnya aku bertemu juga dengan teman ini.
Berbicara sebentar, akhirnya aku mengeluarkan kertas perjanjian kerjasama dan akhirnya kami menandatangi surat itu diatas materai yang menegaskan keseriusan kami dalam pelaksanaan pertunjukan ini. Aku memberikan 5 buah proposal padanya. Dia katakan dalam waktu dekat dia bertemu dengan orang Karo paling tinggi jabatannya di negeri ini. Dan tentu saja aku tersenyum mendengarnya.
Air Seni di Mataku
Pernahkah pembaca semua menyadari, malam ini terbit kebosanan dalam hidupku?
Aku sudah bosan dengan yang sedang terjadi. Aku sudah bosan dengan pola hidupku. Aku sudah bosan dengan takdirku.
Mengapa aku harus menjadi seniman? Mengapa?!!
Jawab!!!!
Tidak ada yang menjawab. Termasuk yang memberikan talenta padaku itu. Besok pagi akan aku jelang lagi. Namun aku sudah letih Tuhan. Hidup ini terlalu membosankan bagiku.
Mengapa mereka tidak pernah mengerti akan aku!!! Mengapa!!
Ini bukan pilihan hidupku. Tapi ini memang takdirku. Cobalah mengerti.
Aku seka peluh, dan usap air mata. Mengapa akhirnya aku seperti ini? Aku tidak pernah tahu.
JOEY BANGUN
Perjodohan Ala Karo
“Bibi yang ngenalkan aku sama dia!” kata Agita (bukan nama sebenarnya) pada saya suatu hari. Agita melanjutkan, “Sekarang semua keluarga kami ribut gara-gara kami ngga jadian!”
Saya bertemu dengan bebere Biring ini di sebuah acara Karo di Jakarta beberapa waktu lalu. Kebetulan saya didaulat menjadi pengisi acara di pesta itu. Tahu saya ada di acara itu, Agita yang memang teman lama saya lalu menghampiri saya. “Kemana aja lo? Jarang kelihatan lo sekarang ya. Gue mau curhat nih. Lo paham adatkan? Kasi gue solusi dong!” kata gadis manis berusia 28 tahun itu. Untung saja saat itu saya sudah selesai ngisi acara. Jadi sedikit lebih rileks. Kalau tidak, mungkin kosentrasi saya bisa pecah.
“Sebenarnya cowok itu saudara jauh kami. Bibi yang kenalkan dia sama aku. Bibi cowok itu juga yang ngenalkan aku sama dia. Kenapa sih di Karo ini orang ribut masalah jodoh. Berebut untuk menjodoh-jodohkan semua. Apa mereka pikir aku engga bisa dapat jodoh apa?!” lanjut Agita menumpahkan kekesalannya. Saya hanya mangut-mangut mencoba menyelami curhat gadis ini dulu.
Bibi ketemu bibi, lalu mereka saling menjodohkan anak atau permainnya. Perjodohan yang dilandaskan hubungan kekerabatan. “Kalau bisa dekat-dekat kenapa cari yang jauh-jauh,” kata bibi saya suatu hari mencoba menjodohkan saya dengan seorang Beru Karo. Saya hanya tertawa mendengarnya. Saya mencoba maklum berhubung usia saya memang sudah matang untuk menikah. Tiba-tiba saya teringat tulisan saya berjudul “Bercinta Ala Don Juan” yang dimuat di majalah Cosmopolitan Desember lalu. Di tulisan itu saya berikan tips-tips untuk menundukkan hati wanita. Masak saya menulis begituan, tiba-tiba saya dijodohkan. Para redaktur Cosmopolitan bisa terpingkal-pingkal mendengar berita ini.
“Hari gini main jodoh-jodohan bo? Kemane aje!” kata teman saya seorang Fashion Stylist yang mengenalkan saya pada majalah lifestyle itu.
Terkadang
Terkadang kita harus melupakan Tuhan jika ingin berbuat sesuatu
Terkadang kita harus kembali pada Tuhan jika terjadi sesuatu
Terima kasih Tuhan
Engkau selalu sabar melihat keegoisanku
JOEY BANGUN
Dibalik MOB 2008
Jujur, ini adalah sebuah kesempatan yang harus kumanfaatkan. Kesempatan dimana aku memperoleh beasiswa untuk sebuah ilmu yang disebut Manajemen Organisasi Budaya (MOB). Apalagi yang memberikan ilmu tersebut adalah lembaga top semacam Yayasan Kelola dan Sekolah Tinggi PPM.
Semua peserta yang lolos seleksi dikumpulkan di hotel Gren Alia di Cikini tidak jauh dari kompleks Taman Ismail Marzuki. Aku check in di hotel hari minggu itu jam 7 malam karena siangnya aku masih harus menemui beberapa teman. Ternyata teman sekamarku berasal dari Semarang, seorang program director dari Importal.
Hari pertama, aku bertemu banyak teman baru. Mereka tidak hanya seniman dari teater, tari, musik, seni rupa, bahkan ada dari beberapa gallery. Yang pasti mereka semua punya jabatan di organisasi masing-masing. Untuk itu maka pihak Kelola memilih kami untuk mengikuti program ini. (lagi…)
BTS : DOA MENGANCAM I
Hari pertama aku kembali ke film tentu saja aku datang tepat waktu. Lokasi syutingnya di Pasar Kemiri Depok. Sebuah pasar yang berlokasi di belakang Mall Depok. Aku bertemu banyak teman baru disana. Walau hari pertama itu kami belum terlalu akrab. Untung saja Raymond banyak membantuku dalam berinteraksi. Apalagi ketika dia memperkenalkan dengan Mas Hanung Bramantyo.
Aku sebenarnya tidak terlalu paham dengan job des kerjaanku. Raymond bilang aku sebagai asisten talent. Padahal sebetulnya aku sebagai astrada ke 3. Soalnya aku juga ikut mengarahkan blocking pemain.
Tidak itu saja. Aku harus mengarahkan figuran 150 orang!. Fiuh… betapa beratnya. Aku bisa bayangkan kalau hanya 2 astrada plus co-director itu yang mengarahkan dan tidak ditambah aku? Mungkin saja mereka akan merasa sangat kelelahan. (lagi…)
Terima Kasih Mama
Mama,
Terima kasih setelah tadi aku mendengar suaramu kembali
Mama,
Terima kasih engkau mengijinkan anakmu menjadi seniman
walau,
Aku tahu ada keraguan di hatimu
Mama,
Aku tidak pernah ragu pada pilihanku
Anakmu yang selalu mengasihimu
Joey Bangun
Film, aku kembali…
Kata-kata itu aku buka untuk memulai perjuanganku esok. Besok aku kembali syuting film. Kebetulan aku dapat proyek sebagai asisstant talent di film produksi Sinemart berjudul “Doa yang Mengancam” karya Hanung Bramantyo (sutradara Ayat-ayat Cinta). Film ini dibintangi Aming, Titi Kamal, dll. Jujur ini adalah kerjaan yang memberikan surprise dalam karir hidupku. Baru kali ini aku ikut produksi film layar lebar, dan sebagai asisten Hanung Bramantyo pula. Hanung adalah salah satu sutradara favoritku. Dia sudah memenangi 2 piala Citra. Filmnya Ayat-Ayat Cinta menjadi film terlaris dalam sejarah Indonesia.
Syuting besok di pasar Kemiri Depok. Lokasi syuting 3 hari ke depan di tempat itu. Kami akan menggunakan figuran 150 orang untuk menghidupkan suasana adegan pasar. Tentu saja ini tantangan besar bagiku.
Sudah 6 bulan aku tinggalkan dunia film. Setelah mengerjakan beberapa proyek pertunjukan drama Natal sampai Paskah kemarin. Dan inilah saatnya aku kembali, sebelum menyiapkan Pawang Ternalem yang mulai proses produksi mulai Juni nanti. Hitung-hitung cari duit buat bayar kos, beli bensin motor, sambil nabung-nabung buat traktir Nande Karo makan bakso pas malam mingguan. (lagi…)
Entah Kenapa
Entah Kenapa,
Malam ini aku kembali mengingat dia. Setelah tadi siang aku bertemu dengan gadis itu. Gadis yang mirip dia. Mungkin karena gadis itu berberu sama dan dari asal kampung sama pula.
Hanya,
Gadis yang aku temui tadi siang adalah yang paham adat. Karena memang dia berasal dari kampung itu. Sementara dia, dia lahir dan besar di kota metropolitan ini. Dia tidak paham adat. Sayangnya dia tidak berusaha memahaminya walau aku mencoba mengajarinya.
Mungkinkah hatiku tetap bersamanya?
Joey Bangun
God Bless Karo
Ini sebuah kebanggaan bagi saya. Bayangkan, saya bisa terpilih mewakili Seniman dari propinsi terbesar di Indonesia ini. Saya tidak pernah tahu kalau sayalah yang mewakili Jakarta.
Terima kasih Tuhan, Engkau selalu jadikan impian menjadi nyata. Jika Engkau ijinkan, aku akan kembalikan semuanya pada pengembangan suku yang melahirkanku. Suku Karo tidak boleh tertinggal dari suku lain ya Tuhan.
God Bless Karo! God Bless Teater Aron!
Joey Bangun
Peserta Lokakarya Manajemen Organisasi Budaya 2008
Kelola kembali menjalin kerja sama dengan LPPM untuk menyelenggarakan Lokakarya Manajemen Organisasi Budaya (MOB) yang dilaksanakan pada 12-16 Mei 2008. Agar lokakarya diikuti oleh peserta yang tepat dan benar-benar membutuhkan, Kelola jauh-jauh hari menyebarkan informasi ke berbagai komunitas seni di seluruh Indonesia.
Kelola juga memberi kesempatan kepada calon peserta untuk berkompetisi mendapatkan beasiswa lokakarya. Dari 44 pelamar yang masuk, Kelola memberikan beasiswa kepada 15 orang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia .
MOB adalah model pembelajaran mengenai pengelolaan organisasi seni budaya. Materi yang disampaikan dalam lokakarya ini meliputi dasar-dasar manajemen, perencanaan strategi jangka panjang, manajemen keuangan, manajemen perusahaan, manajemen pemasaran, penggalangan dana (fundraising) , dan penulisan proposal. (lagi…)
Rudang Berastepu
Ingin kurengkuh Rudang Berastepu
lalu coba bisikkan asa di wajahnya
adat istiadat tidak pernah salah
`
Aku ada dan dia ada
bukti maha karya
keagungan adat istiadat
`
Semasa di waktu lalu
ingin kutautkan puisi padanya
untuk ungkapkan ketulusan hasratku
`
Namun melihat gelagatnya
bukan adat yang menyatukan hati
tapi takdir justru menjauhkan
`
Puisi ini kutorehkan pada
Rudang Berastepu
kembang yang pernah datang
lalu aku antar pulang
`
Agar satu waktu kelak
sang kembang tidak lagi menyalahkan
adat istiadat yang melahirkannya
hingga waktu membuat kami berpisah
`
Jakarta, 2 Mei 2008 2.57
Joey Bangun
Jawaban
Terkadang dari suara, kita sudah menyadari sebuah jawaban. Walau kita sendiri tidak melontarkan pertanyaan tapi kita sudah tahu jawabannya.
Begitu juga dia. Dia sudah tunjukkan sikap dari suaranya. Tentu saja aku sudah tahu jawabannya. Jadi untuk apa diperpanjang lagi.
Joey Bangun
