Novel Pawang Ternalem

Menyambut pertunjukan Pawang Ternalem 25 Oktober di Taman Ismail Marzuki nanti, komunitas seni Teater Aron akan merilis sebuah novel berjudul “Pawang Ternalem”. Novel ini ditulis Joey Bangun. Novel Pawang Ternalem akan menjadi buku ke-3 karya Joey Bangun setelah buku “Puisi-Puisi Joey Bangun” (Pustaka Bangun Mulia 2004), “Kumpulan cerpen Kisah Karo Tempo Dulu” (kerjasama Pustaka Aron dan Radio Karo Access Global 2006) yang dicetak oleh Kesaint Blanc.

Buku ini bukan buku pertama yang menceritakan tentang Pawang Ternalem. Sebelumnya Pdt M. Joustra menulis buku “Beru Patimar, anak Pengulu Jenggi Kumawar” terbitan Leiden – S.C. van Doesburgh 1914. Buku karya M.Joustra ini seluruhnya menggunakan bahasa Karo lama dengan logat Sibolangit kental. Berhubung pendeta ini lama tinggal di Sibolangit bertugas untuk penginjilan. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 24, 2008 at 4:12 pm Komentar (3)

Ahmadiyah di Medan

Tadi sepulang dari beberapa kegiatan satu harian, saya iseng-iseng buka-buka buku lama. Ternyata saya mendapat informasi baru dari buku Tengku Luckman Sinar berjudul Sejarah Medan Tempo Doeloe terbitan 1991.

Katanya begini :

Tahun 1934
- Dalam bulan Juni Sumatera Timur didatangi oleh sekte baru yaitu AHMADIYAH, yang dibawa oleh orang India bernama MOHD. SADIQ dan dibantu seorang Minangkabau bernama Abubakar Ayub..

Tahun 1935
- Terhadap kegiatan Ahmadiyah, terbit protes-protes dari kalangan agama Islam. Bertempat di bisokop “Hok Hoa” pada tanggal 17 Nopember diadakanlah debat umum yang dihadiri 100 orang. Pertemuan ini dipimpin oleh Abd. Rahman Syihab (Al Jamiatul Washliyah). Kemudian berbicara : Tengku Fachruddin dari Serdang, Syekh Mahmud Hayat, H. Ismail Lubis, dan H. Abd. Majid. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa Ahmadiyah bertentangan dengan ISLAM.
Kemudian rapat mengambil mosi agar anggota-anggota Ahmadiyah tidak sah perkawinan mereka dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan Islam dan lain-lain. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 19, 2008 at 7:08 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Minggu

Akhirnya, tadi pagi aku kembali kebaktian di GBKP Jakarta Pusat. Setelah 2 Minggu terakhir aku tidak bisa beribadah gara-gara harus menginap di rumah sakit. Sementara 3 minggu lalu sebelum sakit aku kebaktian di gereja Katedral sore gara-gara telat bangun pagi.

Tetap saja ekspesi mereka ramah padaku. Mereka menghargai diriku. Mungkin karena aku sudah terdaftar menjadi jemaat gereja ini. Tidak seperti kedua teman rumahku yang tidak dianggap ada walau mereka sering beribadah ke gereja ini. Berulangkali aku katakan pada mereka bahwa GBKP Jakarta Pusat tidak pernah mengakui kalian sebagai jemaatnya kalau kalian belum terdaftar dengan surat pindah yang sah.

Sudah banyak yang kuperbuat untuk gereja ini. Sudah sering aku baca puisi. Belum lagi 3 dramaku pernah dimainkan di 3 event besar. Bahkan drama natal A Christmas Carol yang terakhir dimainkan oleh gereja ini menghabiskan dana 30 juta. Ini semua karena kepercayaan gereja ini padaku. Pada karya yang telah diembankan Tuhan padaku.

(lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 15, 2008 at 6:58 pm Komentar (2)

Siapa jadi Pawang Ternalem?

Dua pemuda Karo yang sehari-hari berprofesi sebagai pemain sinetron menyatakan kesediaannya untuk memerankan tokoh Pawang Ternalem. Seorang bermerga Ginting, dan yang lain bermerga Sembiring Depari. Yang Ginting tinggal di Depok, sementara Sembiring tinggal di Kelapa Gading. Kedua-keduanya mempunyai fisik di atas rata-rata. Dua-duanya dalam bahasa karo mempunyai fisik mbestang dan merupa. Keduanya dinilai sangat tepat memerankan tokoh Pawang Ternalem.

 

Saya sudah mendapat konfirmasi kesediaan dari keduanya. Yang Ginting sudah saya dapat konfirmasi via telepon. Sementara yang Sembiring kami sudah bertemu langsung,” kata Joey Bangun saat ditemui di rumahnya di daerah Sumur Batu yang masih dalam proses pemulihan kesehatan pasca sakit demam berdarah.

  (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 13, 2008 at 2:47 pm Komentar (2)

Dramatix

Di sebuah kamar beberapa hari yang lalu, saya merenung, “Mungkinkah semua yang terjadi adalah bagian dari sebuah kisah dramatis Pawang Ternalem?” Hari itu tepat hari ke-5 saya dirawat di rumah sakit PGI Cikini karena penyakit demam berdarah yang saya derita. Yang uniknya, penyakit itu justru datang beberapa jam setelah saya menuliskan catatan panggung berjudul SPIRIT yang saya tuliskan di milis ini minggu lalu.

 

Saya jadi teringat fenomena sandiwara PUTRI HIJAU yang pernah dipentaskan di Medan. Tiba-tiba saja pemeran Putri Hijau dan sutradaranya mati secara misterius setelah mementaskan sandiwara itu. Mungkinkah Pawang Ternalem akan mengalami hal yang sama?

 

Tidak!!

 

Saya berani jawab itu. Penyakit yang saya derita tidak ada sedikitpun hubungannya dengan tahyul. Penyakit itu datang secara alami. Dan tentu saja saya tetap bersyukur pada Tuhan, karena penyakit itu datang tepat sebelum pertunjukan. Bagaimana jika penyakit itu datang justru pada saat pertunjukan? Bisa dibayangkan! (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 12, 2008 at 1:34 pm Tinggalkan sebuah Komentar

DBD

Terus terang, aku tidak pernah opname. Sungguh tidak pernah terrpikir olehku untuk mendekam di rumah sakit berhari-hari tanpa aktifitas. Tapi penyakit selalu datang seperti hantu. Dia bisa datang kapan saja tanpa kita mau. Siap tidak siap kita harus siap menerimanya. Seperti deman berdarah yang tiba-tiba menggerogoti tubuhku. Padahal beberapa hari sebelumnya aku merasa sehat walafiat.

 

Jumat itu aku sudah tidak kuat lagi. Bayangkan, dengan mengerang tak tertahankan aku roboh di depan pintu kamar mandi. Aku tidak kuat lagi. Teman-teman kosku memapahku. Mereka memberiku perawatan dan membawaku ke sebuah klinik.

 

Esoknya aku memutuskan untuk di rawat di rumah sakit PGI Cikini. Banyak handai taulan yang datang. Dari gereja, saudara, teman sejawat dan lain-lain. Selama sakit aku harus berjibaku dengan terombosit yang mencapai 17.000 ditambah demam hingga 40,5 derajat. (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 1:31 pm Tinggalkan sebuah Komentar