Eksekusi

Kemarin aku sudah mengeksekusi orang itu. Orang yang harusnya kusayangi. Yang telah memberikan sedikit aspirasi dalam hidupku. Walau terkadang cara bicaranya membuat aku sedikit tersinggung.

 

Seperti layaknya para mafia Italia yang ingin mengeksekusi orang, aku juga pergi ke Katedral. Ke gereja di depan mesjid Istiqlal itu.  Aku berdoa di depan patung Yesus. Memohon kekuatan dan memaafkan. Setelah yakin doaku didengar, aku pergi ke tempat eksekusi. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Agustus 26, 2008 at 2:56 am Tinggalkan sebuah Komentar

Perjalanan

Dalam hidup ada perjalanan. Ada juga perjuangan.

Pawang Ternalem adalah hidup saya kini. Didalamnya ada perjalanan. Begitu juga perjuangan. Itu sebabnya dalam perjalanan merealisasikan Pawang Ternalem, yang saya lalui adalah sebuah perjuangan. Secara pribadi, Pawang Ternalem adalah bentuk pengejawantahan artikulasi cita-cita idealisme saya sebagai seorang Karo yang telah berani atau nekat mendedikasikan hidup pada seni drama.

Saya tidak pernah melalui perjalanan Pawang Ternalem tanpa perjuangan. Pawang Ternalem tidak pernah melalui jalan tol yang bebas hambatan. Justru untuk merealisasikan idealisme saya ini saya melalui jalan seribu liku-liku. Saya jadi teringat di masa kecil saya berkali-kali muntah saat melalui sebuah jalan lintas Sumatera di dekat kota Padang yang berliku-liku. Saat itu kami sekeluarga bertamasya ke Danau Singkarak. Jujur, di Pawang Ternalem jalan berliku-berliku itu telah menyebabkan saya muntah. Sebetulnya saya tidak kuat lagi. Tapi itulah hidup, ketika kita menginginkan sesuatu maka untuk merealisasikannya kita harus memperjuangkannya walau harus muntah sekalipun. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Agustus 24, 2008 at 6:20 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Restart

Seorang teman bertanya, “Apa yang kau butuhkan untuk Pawang Ternalem?!”

Aku hanya menjawab, “Aku ingin restart segalanya.”

Diterbitkan di:  on Agustus 7, 2008 at 5:18 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Gagal

Kemarin saat memeriksa inbox email, aku mendapat email baru dari Yayasan Kelola. Ternyata aku gagal untuk mendapat Hibah Seni 2008 untuk pertunjukan Pawang Ternalem. Padahal aku sangat berharap ajuan dana pertunjukanku itu bisa terealisasi. Yang menjadi masalah, aku harus mencari banyak dukungan lagi untuk memperkuat pembiayaan pertunjukan ini.

Yang membuat aku sedikit kecewa, ternyata salah satu panel seleksi adalah bapak Jabatin Bangun. Namanya masuk dalam salah satu kepanitiaan dalam proposal Pawang Ternalem. Pantas saja naskah ini tidak lolos. Kalau lolos tentu saja akan disangka KKN.

(lagi…)

Diterbitkan di:  on Agustus 6, 2008 at 6:18 pm Komentar (1)

Start

Sempat saya merinding saat latihan hari pertama Pawang Ternalem. Bukan apa-apa, tiba-tiba saja hujan mengguyur Jakarta tepat saat kami memulai latihan. Dan ini menjadi hujan pertama di Jakarta setelah lebih dari 2 bulan! Yang membuat saya lebih heran hujan itu berhenti setelah kami menyelesaikan latihan. Setelah itu. di hari berikutnya tidak pernah lagi turun hujan di Jakarta. Hanya saat latihan pertunjukan Pawang Ternalem itu!

Filosofi turun hujan sangat dekat dengan kebudayaan Karo. Saya jadi teringat ritus ‘Ndilo Wari Udan’ yang mempunyai muatan sakral dalam mengharapkan kedatangan hujan demi kepentingan hasil panen dan kemujuran kuta.

(lagi…)

Diterbitkan di:  on Agustus 1, 2008 at 4:43 am Tinggalkan sebuah Komentar