Rona Asa

Di sudut keujungan malam

tergambar rupa keagungan surgawi

di hati fana seorang sahabat

`

Wajah itu aku ingat kembali

saat sukma kembali ronakan duka

jiwa hati terpurukkan asa

`

Oh dimanakah sahabat

mengapa dia hanya diam

tak bergeming tak juga ucapkan kata

`

Mengapa tidak lagi terlihat sungging senyumnya

mungkin saja patah hati senada

sahabat ampunkan aku akan kasihmu

ingin aku memelukmu

dan ucapkan di telingamu yang maha suci

`

Selamatkan sahabatmu yang sedang berduka

kalau suatu saat kau melihatnya duduk sendiri

di lorong gelap, menggigil bersedih

lelehkan air mata di pipinya yang berkerut

`

Sebutlah sahabatmu itu

dengan untaian nama indah

nama yang kelak semua orang mengingatnya

nama itu

PAWANG TERNALEM

`

Jakarta, 250908 01.03

JOEY BANGUN

Diterbitkan di: on September 24, 2008 at 5:51 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Dawai Senjakala

Kupersembahkan puisi ini untuk gadis di Semanggi tadi, yang tidak lagi aku hantar pulang….

`

Gadis itu terlihat sendiri

namun,

aku tidak bisa menghantarnya ke peraduan

kekecewaan terlukis di wajahnya

`

Aku memang salah

entah kenapa terkait antara

karya dan cinta

`

Aku renungkan sosoknya di temaram malam

tercoreng sebuah nama indah untuknya

aku sebut dia kini

Dawai Senjakala

`

Jakarta, 170908 23.58

JOEY BANGUN

`

Diterbitkan di: on September 17, 2008 at 5:00 pm Tinggalkan sebuah Komentar

>>STANZA<<

Setelah catatan panggung saya berjudul “Sang Juruslamat” dimuat di milis ini, banyak respon yang saya terima, baik dari berbagai milis, maupun langsung ke email pribadi saya dan email Aron on Art. Respon ini datang dari anggota milis, saudara dan teman-teman, para kru dan pemain Pawang Ternalem, para donatur, dan juga para pembeli tiket.

Saya ucapkan terima kasih untuk respon yang saya terima, baik respon dukungan, pertanyaan seputar jadi tidaknya Pawang Ternalem, dan juga berbagai bentuk hujatan dan sindiran karena saya dituduh membuat janji palsu pada masyarakat Karo. (lagi…)

Diterbitkan di: on September 15, 2008 at 5:44 pm Komentar (2)

Sang Juruslamat

“Buat Karo mendunia,” kata Prof Dr Ir Firman Tambun saat saya bertemu dia Rabu pagi kemarin di sebuah hotel di kawasan Senen. Mendengar kata-kata Staff Ahli Menteri Perekonomian ini terlintas dalam pikiran saya bahwa ini adalah lecutan bagi saya. Mungkin bisa juga akan jadi lecutan bagi anda semua yang merasa diri berbudaya Karo dan bervisi menjadikan Karo mendunia sesuai bidang anda masing-masing.

Sebagai seniman, tugas saya adalah membuat kesenian Karo bisa maju. Karo harus dikenal orang. Karo harus punya eksistensi sebagai salah satu bentuk peradaban dunia. Atau lebih tepatnya, dunia harus tahu Karo memang ada. Dan tanggung jawab itu harus saya jalankan dengan penuh pengabdian penuh. Beberapa waktu lalu di sebuah kampung di Sibolangit, saya pernah bernazar untuk ini. (lagi…)

Diterbitkan di: on at 5:40 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Serenada Stanza Kehidupan

Aku ingat hari itu…


Beberapa hari setelah kami masuk sekolah tingkat atas. Ketika itu di agenda pelajaran olahraga ada tambahan belajar renang. Setiap murid kelas 1 di tahun 1994 itu diwajibkan untuk mengikuti pelajaran ini. Walau aku sedikit kesal karena tidak tahu berenang, aku terpaksa mengikuti pelajaran ini. Asal tahu saja, hari pertama aku mengikuti pelajaran ini aku tenggelam dan ditolong oleh seorang teman yang esok harinya aku traktir di kantin sekolah.

Aku lihat dia pertama kali di kolam itu. Di sisi ujung dekat tangga loncat indah. Bersama teman-temannya sesama perenang. Yang aku ingat betul, ketika itu dia memakai swimsuit warna merah. Dia berenang lincah kesana kemari. Membuatku kagum memperhatikan sambil duduk di sisi kolam. Penasaran, aku tanya seorang teman didekatku, “Siapa dia?” tanyaku. Temanku tersenyum padaku sambil memalingkan wajahnya ke gadis itu, “Oh… itu? itu Serenada.”
(lagi…)

Diterbitkan di: on September 8, 2008 at 12:31 pm Komentar (3)

Irama Kehidupan

 

Aku sudah lelah berlari tanpa henti

Tanpa tujuan pasti yang menyadarkankan aku akan kepastian

Aku hanya ingin terus berlari, berlari, berlari, dan terus berlari

Untuk kepastian yang ingin aku pastikan

 

Aku berhenti sejenak melepas nafas yang terus memburu

Kupegang kedua lututku untuk menahan gelombang nafas ini

Kupandang sekelilingku, gelap, tak ada terang yang menemani

Kupalingkan wajahku ke kiri, juga gelap

Kupalingkan wajahku ke kanan, juga gelap

Kupalingkan wajahku ke belakang, gelap

Kutatap ke depan dengan sentakan nafas aku berlari

  (lagi…)

Diterbitkan di: on September 2, 2008 at 2:20 pm Tinggalkan sebuah Komentar