Rona Asa
Di sudut keujungan malam
tergambar rupa keagungan surgawi
di hati fana seorang sahabat
`
Wajah itu aku ingat kembali
saat sukma kembali ronakan duka
jiwa hati terpurukkan asa
`
Oh dimanakah sahabat
mengapa dia hanya diam
tak bergeming tak juga ucapkan kata
`
Mengapa tidak lagi terlihat sungging senyumnya
mungkin saja patah hati senada
sahabat ampunkan aku akan kasihmu
ingin aku memelukmu
dan ucapkan di telingamu yang maha suci
`
Selamatkan sahabatmu yang sedang berduka
kalau suatu saat kau melihatnya duduk sendiri
di lorong gelap, menggigil bersedih
lelehkan air mata di pipinya yang berkerut
`
Sebutlah sahabatmu itu
dengan untaian nama indah
nama yang kelak semua orang mengingatnya
nama itu
PAWANG TERNALEM
`
Jakarta, 250908 01.03
JOEY BANGUN
Dawai Senjakala
Kupersembahkan puisi ini untuk gadis di Semanggi tadi, yang tidak lagi aku hantar pulang….
`
Gadis itu terlihat sendiri
namun,
aku tidak bisa menghantarnya ke peraduan
kekecewaan terlukis di wajahnya
`
Aku memang salah
entah kenapa terkait antara
karya dan cinta
`
Aku renungkan sosoknya di temaram malam
tercoreng sebuah nama indah untuknya
aku sebut dia kini
Dawai Senjakala
`
Jakarta, 170908 23.58
JOEY BANGUN
`
>>STANZA<<
Setelah catatan panggung saya berjudul “Sang Juruslamat” dimuat di milis ini, banyak respon yang saya terima, baik dari berbagai milis, maupun langsung ke email pribadi saya dan email Aron on Art. Respon ini datang dari anggota milis, saudara dan teman-teman, para kru dan pemain Pawang Ternalem, para donatur, dan juga para pembeli tiket.
Saya ucapkan terima kasih untuk respon yang saya terima, baik respon dukungan, pertanyaan seputar jadi tidaknya Pawang Ternalem, dan juga berbagai bentuk hujatan dan sindiran karena saya dituduh membuat janji palsu pada masyarakat Karo. (lagi…)
Sang Juruslamat
“Buat Karo mendunia,” kata Prof Dr Ir Firman Tambun saat saya bertemu dia Rabu pagi kemarin di sebuah hotel di kawasan Senen. Mendengar kata-kata Staff Ahli Menteri Perekonomian ini terlintas dalam pikiran saya bahwa ini adalah lecutan bagi saya. Mungkin bisa juga akan jadi lecutan bagi anda semua yang merasa diri berbudaya Karo dan bervisi menjadikan Karo mendunia sesuai bidang anda masing-masing.
Sebagai seniman, tugas saya adalah membuat kesenian Karo bisa maju. Karo harus dikenal orang. Karo harus punya eksistensi sebagai salah satu bentuk peradaban dunia. Atau lebih tepatnya, dunia harus tahu Karo memang ada. Dan tanggung jawab itu harus saya jalankan dengan penuh pengabdian penuh. Beberapa waktu lalu di sebuah kampung di Sibolangit, saya pernah bernazar untuk ini. (lagi…)
Serenada Stanza Kehidupan
Aku ingat hari itu…
Beberapa hari setelah kami masuk sekolah tingkat atas. Ketika itu di agenda pelajaran olahraga ada tambahan belajar renang. Setiap murid kelas 1 di tahun 1994 itu diwajibkan untuk mengikuti pelajaran ini. Walau aku sedikit kesal karena tidak tahu berenang, aku terpaksa mengikuti pelajaran ini. Asal tahu saja, hari pertama aku mengikuti pelajaran ini aku tenggelam dan ditolong oleh seorang teman yang esok harinya aku traktir di kantin sekolah.
Aku lihat dia pertama kali di kolam itu. Di sisi ujung dekat tangga loncat indah. Bersama teman-temannya sesama perenang. Yang aku ingat betul, ketika itu dia memakai swimsuit warna merah. Dia berenang lincah kesana kemari. Membuatku kagum memperhatikan sambil duduk di sisi kolam. Penasaran, aku tanya seorang teman didekatku, “Siapa dia?” tanyaku. Temanku tersenyum padaku sambil memalingkan wajahnya ke gadis itu, “Oh… itu? itu Serenada.”
(lagi…)
Irama Kehidupan
Aku sudah lelah berlari tanpa henti
Tanpa tujuan pasti yang menyadarkankan aku akan kepastian
Aku hanya ingin terus berlari, berlari, berlari, dan terus berlari
Untuk kepastian yang ingin aku pastikan
Aku berhenti sejenak melepas nafas yang terus memburu
Kupegang kedua lututku untuk menahan gelombang nafas ini
Kupandang sekelilingku, gelap, tak ada terang yang menemani
Kupalingkan wajahku ke kiri, juga gelap
Kupalingkan wajahku ke kanan, juga gelap
Kupalingkan wajahku ke belakang, gelap
Kutatap ke depan dengan sentakan nafas aku berlari


Komentar