Aku sudah lelah berlari tanpa henti
Tanpa tujuan pasti yang menyadarkankan aku akan kepastian
Aku hanya ingin terus berlari, berlari, berlari, dan terus berlari
Untuk kepastian yang ingin aku pastikan
Aku berhenti sejenak melepas nafas yang terus memburu
Kupegang kedua lututku untuk menahan gelombang nafas ini
Kupandang sekelilingku, gelap, tak ada terang yang menemani
Kupalingkan wajahku ke kiri, juga gelap
Kupalingkan wajahku ke kanan, juga gelap
Kupalingkan wajahku ke belakang, gelap
Kutatap ke depan dengan sentakan nafas aku berlari
Aku berlari, berlari, berlari, dan terus berlari
Tubuhku laksana batu yang dilayangkan Daud ke kepala Goliat membelah kegelapan malam
Mata air peluh terus membanjiri sekujur tubuhku
Kaki penuh darah terus kuantukkan di sepanjang jalan yang penuh batu dan kerikil
Serasa tidak mengenal ampun aku terus berlari, lari, lari, lari, dan lari lagi
Aku berhenti sejenak menoleh kesana kemari, gelap!
Aku ketakutan, sangat ketakutan, tidak tahu apa yang harus kutakutkan
Aku menggigil melihat keadaan sekelilingku
Kebekuan diri membuat aku tak sadar
Timbul hasrat untuk berlari lagi
Aku terus berlari, berlari, berlari, berlari lagi
Tak satupun keinginanku untuk menoleh ke kiri ke kanan
Suatu penyesalan atas perbuatan membayang dalam kalbuku
Aku ingin tahu seberapa besar perbuatan yang telah menyesaliku
Aku tidak tahu!
Aku tersentak ketika ada dorongan yang membawaku ke satu titik
Aku tidak mengerti kenapa harus kesana
Ke tempat yang tidak pernah kutahu
Aku hanya bisa berlari, berlari, berlari, berlari lagi, berlari lagi, dan berlari
Aku sudah tidak tahan lagi dan akhirnya,
Aku tidak mengerti lagi dan tidak melihat apa-apa lagi
Aku dikejutkan oleh irama yang mengalun di sekitar gendang telingaku
Aku bangkit membuka mata dan melihat ke kanan, ke kiri, ke belakang, ke depan, gelap!
Aku mencoba menoleh ke atas, ke langit-langit peraduan
Setitik cahaya menghiasi kedua kelopak mataku
Cahaya itu bermain-main seolah mengajakku berdamai
Aku semakin tidak mengerti dengan keadaanku
Aku takluk, aku kalah, aku pengecut, aku bukan pahlawan
Aku hanya pembangkang, aku pecundang, aku penjilat, aku murtad, aku penipu, aku,
Baru kusadari bahwa tidak ada kata kata lagi yang bisa menyebut siapa aku ini
Cahaya itu menghampiri dan terus mendekatiku
Seolah berjalan tanpa keengganan memandang keterpurukanku
Cahaya itu menggengam kedua tanganku dan menuntunku berdiri
Aku hanya menunduk dalam dengan takut tak termaafkan
Cahaya itu mengangkat wajahku
Aku terkejut
Aku melihat wajah itu
Wajah yang penuh kedamaian tanpa keputusasaan
Tubuhnya yang sempurna memaku tubuhku dalam ketidakberdayaan
Aku tidak tahan,
Aku tunduk berlutut menahan isak tangis yang tak termaafkan
Kupegang kilauan jubahNya dengan sejuta harapan
Dia memegang pundakku mengangkat wajahku dan tersenyum
KataNya “Hari Ini Kau Akan BersamaKu di Firdaus”
Tubuhku diangkatnya melayang ke udara
Menembus langit dan cakrawala
Aku merasakan kedamaian
Aku tidak tahu dibawaNya kemana
Tapi aku yakin kedamaian ada disana
Keyakinanku meyakinkanku
Bahwa tempatku memang disana
= Kupersembahkan untuk mereka yang berharap kedamaianNya =
Bandung, 5 Oktober 2003
Joey Bangun
