Wanita Karo di Indonesia 500 early Postcards

Wanita Karo
Seorang wanita Karo tempo doeloe menjadi cover buku “Indonesia 500 early Postcards”. Wanita Karo itu duduk dengan gaya anggun memakai pakaian khas wanita Karo lengkap dengan tudung dan padung-padung tempo doeloe. Yang uniknya di atas tudung wanita Karo itu diletakkan “Sumpit Nakan”.

Keanggunan wanita Karo Tempo doeloe adalah sebuah sisi eksotik kearifan lokal budaya Karo. Yang pasti pose wanita Karo ini menjadi pose terbaik/pilihan dari 500 gambar kartu pos seluruh Indonesia yang dikeluarkan pada zaman kolonial.

Diantaranya ada beberapa yang menggambarkan kehidupan kuta Karo Tempo Doloe. Seperti Istana Sibayak Lingga di Kabanjahe. Istana Raja Karo ini berdiam 16 Jabu  (16 Keluarga). Istana ini sudah hangus dibakar rakyat Karo saat zaman Revolusi tahun 1947. Raja Sibayak Lingga terakhir adalah Raja Kelelong Sinulingga bulang dari Isfridus Sinulingga (suami Tio Fanta Pinem).

Buku yang dirangkum oleh Leo Haks dan Steven Wachlin. Buku ini ditawarkan dengan List price: $40.00. Di Indonesia bisa didapatkan di Toko Buku Gramedia dengan harga : Rp. 415.000,-… ..!

Selamat mencari dan mengoleksi salah satu buku langka ini!

Diterbitkan di: on Juli 28, 2009 at 1:10 pm Tinggalkan sebuah Komentar

The Special Headdress of Karo tell a Story

Mahligai

Tudung khas Karo Bercerita

Exotic and Unique. That is the proper word for the traditional wedding attire of Batak Karo, North Sumatera. The Characteristic is on its headress. Besides presenting the beauty and exclusivity, this headdress made from ulos was an everyday tradition of the Karo’s society as a protection from the daylight sun shine, or from the night cold wind. For the bride’s appearance, this unique headress as tough has an abilty to tell story.

(Majalah MAHLIGAI edisi ke 5 Juli 2009)

Itulah kalimat pembuka halaman 10 majalah tradisi, pernikahan, dan gaya hidup MAHLIGAI edisi Juli yang saat ini banyak beredar di berbagai toko buku maupun agen koran dan majalah. Di kalimat pembuka itu saja saya sudah menarik kesimpulan adanya kesalahpahaman karena ketidakpahaman.

Budaya Karo tidak mengenal yang namanya Ulos. Apalagi menggunakan ulos dalam pakaian perkawinan tradisional Karo (Ose). Adapun jenis-jenis kain karo/uis terbagi oleh 19 corak : Beka Buluh, Uis Nipes Padang Rusak, Gatip Jongkit, Uis Nipes Benang Iring, Kelam-kelam, Julu, Ragi Mbacang, Jujung-jujungen, Uis Gara Jongkit, Langge-langge, Uis Teba, Uis Pementing, Uis Batu Jala, Uis Arinteneng, Gatip Cukcak, Uis Gara benang emas, Gobar Dibata, Gatip Gawang, dan Uis Perembah.

(lagi…)

Diterbitkan di: on Juli 13, 2009 at 6:08 pm Tinggalkan sebuah Komentar

BENAH – BENIH

Catatan ini menjadi catatan pertama untuk merangkai kisah dibalik proses produksi pertunjukan teater PUTRI HIJAU produksi ke-7 Teater Aron yang akan digelar 16-17 Oktober 2009 di Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Ismail.

Catatan ini akan menjadi pembuka sebuah perjalanan panjang dari sebuah pertunjukan monumental yang syukuran dan latihan perdananya akan digelar nanti malam di Sanggar Baru Taman Ismail Marzuki, tempat latihan resmi PUTRI HIJAU.

Syukuran nanti akan dihadiri para aktor dan kru yang terlibat. Yang pasti mereka semua siap mendedikasi hidup mereka beberapa bulan ke depan demi kesuksesan PUTRI HIJAU. Dedikasi itu kemudian kami sebut “Dedikasi untuk Budaya” demi kemajuan Karo tercinta.

BENAH

Saya telah menuliskan naskah setebal 32 halaman terdiri 5 babak dengan 29 adegan/scene berdurasi 2,5 jam. Selama 5 bulan saya mengerjakan naskah ini setelah saya melakukan riset lapangan dan data selama sebulan penuh di bulan Januari lalu. Hasilnya, saya memastikan naskah yang akan kami mainkan nanti adalah sebuah naskah teater kolosal terdahsyat yang mewakili tiga etnis, Karo, Melayu, dan Aceh.

Saya terlalu percaya diri mengatakan demikian? Atau terlihat sedikit sombong?

Yang hanya bisa saya katakan, saya harus percaya diri. Kalau saya tidak percaya diri bagaimana saya berani memulai perjuangan yang menurut sebagian seniman Karo Jakarta “Mission Impossible”. Semangat berkarya dan terus berkarya terus saya tanamkan dalam benak saya. Sesuatu pasti akan terjadi ke depan. Menang atau kalah, tidak ada yang tahu. Kalau kita tidak pernah memulainya darimana kita tahu kita akan kalah. Kalau kita fokus, percaya diri, dan berserah pada Tuhan, mungkinkah kita akan kalah?

(lagi…)

Diterbitkan di: on Juli 8, 2009 at 8:16 pm Tinggalkan sebuah Komentar