Tradisi – Kontemporer – Inovatif
Catatan jelang pertunjukan PUTRI HIJAU
“Dikhotomi antara yang tradisional dan yang kontemporer adalah dikhotomi yang problematis. Dalam kehidupan kesenian di Indonesia sekarang, apa yang tradisional juga masih hidup di satu zaman dengan yang modernis dan avant garde,” kata Goenawan Mohamad pada diskusi “Rethinking Tradition” di Goethe Haus Jakarta Sabtu lalu. Diskusi ini menjadi penutup dari acara yang digelar selama beberapa hari, yaitu Regional Dance Summit “Transforming Tradition” di tempat yang sama.
Selain penyair/sastrawan Goenawan Mohamad, hadir pula penari Sardono W Kusumo sebagai nara sumber. Diskusi ini diikuti lebih 200 orang dan uniknya datang dari berbagai negara seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Kamboja, Vietnam, Australia, hingga New Zealand. Sementara dari seniman Karo yang hadir saya dan Fredy Ginting (pemeran bapa Rudang yang kini menjadi pemeran utama PUTRI HIJAU). Kebetulan kami menghadiri diskusi ini setelah menghadiri kerja-kerja/pesta adat di gedung Dittopad Jakarta Pusat siangnya.
Apa yang menarik di diskusi itu tentu saja thema yang diangkat “Rethinking Tradition” memikirkan kembali tradisi. Sebegitu pentingnyakah kita memikirkan tradisi sementara saat ini kita hidup dikukung oleh hiruk pikuknya dunia digital.
Saat saya menghadiri kerja-kerja/pesta adat di Dittopad, saya melihat banyak sekali orang berkumpul. Mereka datang dari kalangan berada hingga ke level hidup dari cukup. Mereka hadir di tempat itu bukan hanya mereka menerima undangan yang sama juga seperti saya. Bukan pula karena mereka sekedar menghargai yang punya hajatan. Sadar dan tidak sadar, orang-orang yang berkumpul itu sudah “Rethinking Tradition”. Mereka hadir karena latar belakang tradisi mereka. Tradisi Karo!
Sebagian besar dari mereka berasal dari Karo. Terlihat dari gaya berpakaian mereka. Gaya omongan mereka. Gaya jalan mereka. Gaya bertutur mereka. Mereka semua tidak bisa menghilangkan gaya itu. Gaya itulah disebut dalam nilai kebudayaan yaitu kearifan lokal budaya Karo.
Namun tidak semua generasi paham dengan kearifan tradisi itu. Terutama generasi muda. Itu sebabnya diperlukan gaya kontemporer dengan inovasi-inovasi baru yang tidak menghilangkan sisi tradisi itu sendiri.
(lagi…)
~Mutiara Dewata~
Deru ombak mengguncang butiran pasir
sinar sunset membelah birunya pantai
kibaran angin hantarkan petang
burung camar nyanyikan kehidupan
`
Dibawah rindang pohon kelapa
Dinda ayu rebahkan tubuhnya di hamparan pasir
tergolek, mata memandang lurus ke atas
ungkap arti hidup pada cakrawala
`
Mutiara Dewata mendesahkan harapan
tuk berpaut pada Ma Nangin
berpelukan, menari dalam kobaran ombak asmara
cahaya mata berpadu pancarkan ketulusan
senyuman mengulum ungkapkan kasih
tawa berkumandang gelorakan jiwa
tuk nyatakan cinta
`
Mutiara Dewata berpulang pada Parahyangan
mewujudkan impian meraih cita dan cinta
tautkan diri pada jantung hati
bersatu pada alam
`
Tuk katakan
Dialah mutiara
di tengah pasir Kuta
`
= Kupersembahkan Untuk Mutiara Dewataku =
`
Camp David, 8 April 2004
Pk 23.46 WIB
Joey Bangun
Selamat Jalan Pahlawan!

Secara pribadi saya turut berduka mendalam atas kepergian si “Burung Merak”. Saya adalah pengagum Wilibrodus Surendra Rendra. Kumpulan buku puisinya tersusun di rak buku saya, dan poster wajahnya tergantung di dinding kamar saya.
Saya teringat saat saya bernazar untuk menonton Rendra baca puisi sebelum dia dipanggil Tuhan. Waktu itu tanggal 6 April 2006, saya akhirnya menonton sang maestro teater itu baca puisi di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Padahal saat itu tiketnya sangat mahal untuk ukuran orang baca puisi. Uang saya yang pas-pasan coba saya korbankan untuk mengabulkan nazar itu.
Semangat Rendra mengembangkan seni teater di tanah air memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus bersemangat mengabdi di kesenian ini. Termasuk saya!
Selamat jalan Rendra! Selamat jalan Pahlawan!
Aku mendengar suara
jerit hewan terluka
Ada orang memanah rembulan
ada anak burung berjatuh di sarangnya
Orang-orang harus dibangunkan
kesaksian harus diberikan
agar kehidupan bisa terjaga
(W.S Rendra, PPR, 1992 : 21)
Joey Bangun

Komentar